Selasa, 23 Agustus 2016

Namaku yang indah

Nurhidayati....
Konon, katanya, nama ini diberikan oleh almarhum kakek saya, ayah dari bapak saya ketika bapak saya belum menemukan nama untuk saya. Dan saya sangat bersyukur...dengan nama dari beliau..dan akan saya kenang sepanjang hidup saya.

Nurhidayati,

Cahaya Petunjuk.....
Pasaran memang sih, ya karena artinya bagus, jadi banyak yang memakainya...

Hidayah itu benar-benar mutlak milik Allah. Bisa dikatakan, dialah anugrah terindah dari Allah. Untuk memperolehnya, ternyata tidak bermula dari lingkungan yang kondusif atau melulu mendengarkan kajian islami. Dari lingkungan yang burukpun, jika Allah menghendaki, hidayah itu akhirnya bisa didapat.

Yang diperlukan kita, sebagai manusia yang tidak tau kapan ajal menjemput adalah ikhtiar. Mencari sumber-sumber hidayah dan berdoa agar mendapatkannya. Alquran...dengan bahasanya yang khas dan lembut bagi qalbu, adalah sumber hidayah utama. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat muhkamat yang langsung bisa cless  di jiwa. Inilah yang kemudian menjadi jalan menuju hidayah.

Alquran itu sumber ilmu dan semacam moisturizer bagi jiwa. Kondisi demikian saya rasakan ketika beranjak ke dunia kerja, dimana saya merasa keteteran bukan hanya sehari dua hari, namun bisa dibilang dalam jumlah tahun, dengan peran saya yang berganti dari hanya seorang mahasiswa, kemudian menikah, sebagai istri, kemudian menjadi ibu. Dunia seolah berbeda. Saya harus menemukan keseimbangan baru. Dan saya mengakui, tidak mudah bagi saya untuk menemukan keseimbangan baru itu.

Ternyata, saya menyadari betapa lemahnya saya dengan segala perasaan dan pemikiran atas perubahan kondisi, bagaimana menentukan prioritas-prioritas untuk peran yang baru. Sekarang, dengan kemudahan dari Allah bisa dibilang saya sedang beranjak hampir menemukannya. Saya sudah kembali intens dengan alquran dan rasanya, cless...seperti yang ingin saya rasakan kembali.

Ya Allah semoga engkau tidak mencabut nikmat yang Engkau berikan untuk dekat dengan Alquran atas dosa-dosa yang tidak aku sadari.

Peran seseorang tidak hanya dalam konteks intrapersonal saja, tidak hanya kemudian menjadi soleh solehah, tapi kemudian dituntut untuk menjadi muslih. Saya kok ya kemudian sadar bahwa keseimbangan baru itu sangat sesegera mungkin saya perlukan. ya iya, lha wong saya itu orangnya bukanlah sosok-sosok berpengaruh. Saya lebih kepada orang yang peduli...diam...dan berfikir. Lhah, orang macam begini akan cenderung diam pada ranah sosial kemasyarakatan kan? Kalau orang sudah wataknya cerewet akan lebih mudah diterima masyarakat kan? dan akan lebih mudah berinteraksi dengan sesamanya.

Nah, saya kok ya merasa kalah banget dalam ranah ini. logika saya adalah diam, memperhatikan, berkesimpulan...Ya Allah...saya makin sadar saya harus berubah...tapi sungguh sulit. Apalagi kalau apa yang saya lakukan ternyata masih saja kurang di mata orang lain...sedih banget rasanya...trus cenderung diam dan menarik diri...introvert banget lah pokoknya.

Jadi, dalam rangka mencari jati diri..ehm...kayak anak abg aja...dan mencari pemaknaan hidup lewat pemaknaan nama...orang yang sudah berumur 28 tahun ini harus jauh lebih banyak menggali potensinya..jangan selalu merasa salah berkepanjangan dengan semua cobaan...harus bangkit dan bangkit.(mungkin tentang cobaan kecil sebelum ini akan saya bahas di tulisan selanjutnya).

Saatnya bangkit sekarang juga!!!!! no excuse..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar