Kamis, 12 September 2013

Ketika kau Sedang Kecewa

Kenapa sekarang aku masih menulis adalah karena sebentuk motivasi dalam sanubari. Beberapa waktu ini, muncul semacam kesadaran bahwa aku belajar dari tulisanku. Apa yang aku tulis dan kemudian aku ingat seolah memberikan petunjuk akan daya pikirku saat itu. Seberapa yang aku tulis sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya beberapa saja mengingat aku baru memulainya semenjak kuliah dan usai lulus, aku merasa sedikit ada waktu untuk melakukannya lagi.

Kini, kesadaran itu muncul bahwa aku telah menulis dengan nilai yang indah, penuh kesantunan dan norma yang apik serta berlatar belakang ideologi yang aku anut. Ketika aku merasa bodoh karena hampir jarang sekali waktu untuk membaca dan menuliskannya kembali. Sebentuk rasa rindu menggantung untuk ingin memulainya lagi dan semoga ini menciptakan nilai manfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Dalam tulisan ini aku belum dapat memberikan motivasi penuh dan utuh untuk memulai menulis, akupun masih dalam taraf memotivasi diri sendiri karena manfaat yang aku rasa bisa aku petik, meskipun baru sedikit. Dengan bertambahnya tulisan-tulisanku, aku yakin akan makin banyak manfaat itu mengalir.

Namun, satu hal yang aku ingat mengapa aku mengawalinya dengan menulis, adalah sebuah alasan sederhana untuk menghibur diri ketika sedang merasakan melankolik dari suatu kekecewaan. Kekecewaan yang sebenarnya aku menyadarinya sebagai bagian dari kehidupan, dan tentu saja masih banyak orang lain yang menghadapi kekecewaan jauh lebih besar daripada kekecewaanku ini.

Kekecewaan, apapun sebabnya membuat orang menjadi malas untuk tersenyum, namun itu patut untuk diusahakan. Rasa mendung di hati ini akhirnya akan menggerakkan jiwa ke arah potensialnya. Jika hati laksana cuaca, maka jiwa ini laksana iklim. Aku berharap sebagaimanapun cuacanya, iklim yang baik tetap saja tidak akan menjadikan penduduk bumi menderita. Jika iklimnya bersahabat, tidak da efek rumah kaca atau polusi permanen yang menyertainya, maka bumi insyaAllah akan sehat-sehat saja. Itulah yang aku inginkan dari sebentuk jiwa ini.

Jiwa ini harus tetaplah mengalir sebagai ombak yang bersemangat meraih tepian pantai. Dengan gemuruhnya yang menentramkan, ombak ini tetaplah harus mengantarkan botol berisi kertas harapan yang akan disampaikan kepada pemiliknya. Agar ombak ini senantiasa dinanti oleh pemilik kertas harapan itu.

Maka daripadanya, jiwa ini ingin kembali membangun jatidiri dengan lebih melapangkan jangkauannya agar sedikit penghambat lajunya terasa sangatlah kecil, dan makin kecil. Dan dengan ridlo Allah, ombak itu akan mendapatkan kemudahan yang jauh lebih besar dari rintangan yang dihadapinya. Semoga saja, harapan itu masih ada, dan menyerahkan sepenuh jiwa kepada pemilik jiwa adalah langkah terbaik untuk mendapatkan solusi terbaik. Bangkitlah wahai jiwa, ini hanyalah rintangan yang sangat kecil, jangan putus asa karena bisa jadi rintangan-rintangan lain yang akan membersamai langkahmu akan segera meyongsongmu.

DAN, PUKULAN YANG TIDAK EMMBUATMU MATI AKAN MAKIN MENGUATKANMU!!!!