Kamis, 06 Desember 2012

Probabilitas, Tawakkal, dan Harapan

Kemarin, kami bersama-sama melaju dengan sebuah mobil, melewati jalanan yang kanan dan kirinya adalah tepi perbukitan.  Kadang, tampak tepi bukit itu terpotong untuk dibuat jalan lintas kota. Di satu sisi, bukit yang tinggi, di sisi yang lain jurang menganga yang tak terlalu tampak oleh rimbun pohon-pohon monokotil serupa pandan namun tinggi, diselingi pula oleh semak belukar dari paku-pakuan yang lebih besar dari yang biasa aku jumpai di sekitar rumahku dulu.

Ketika melewati jalan ini, aku sering berfikir, disinikah akhir hidupku? ketika semisal mobil yang kutumpangi masuk ke jurang itu. Mungkin pula sebelumnya sudah ada beberapa insan yang mengalami hal serupa, entah berakhir selamat atau maut. Kadang pula, aku harus berangkat malam hari untuk suatu urusan ke pulau lain, atau kota lain. Jadi, aku sering saja membiarkan rasa takut itu menguap tanpa kuhiraukan agar tidak permanen mengendap di hatiku.

Di tempat seperti inilah tiga remaja bercengkerama tentang masa depan mereka, tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang akan mereka jalani sebagai seorang PNS di sebuah instansi yang memiliki tantangan tersendiri. Bekerja berpindah-pindah dan penempatan yang sampai pelosok negeri.

Pada dasarnya, alasan kuat untuk memutuskan sesuatu bagi kebanyakan dari kami adalah, ingin dekat dengan keluarga. Entah suami, istri, atau ayah ibu. Perjuangan di Padang dua hari kemarin sebagian besar adalah didasari untuk penempatan yang lebih baik. Dan di sinilah aku, seperti yang sudah-sudah, aku selalu tidak tahu berada di posisi yang ingin seperti apa. Seolah setiap posisi yang aku bayangkan selalu memiliki imbas yang baik, dan buruk sebagai pasangannya. Setiap keberadaanku pada dasarnya adalah probabilitas untuk bersyukur atau kufur. Ketika aku kemudian ditanya, kenapa aku mengikuti ujian itu, padahal sudah bersama dengan suamiku; dengan kata lain, keputusan tes itu mungkin malah bisa membuat kami berpisah jarak; masih saja aku menjawab tidak tahu. Itu bukanlah jawaban yang bagus sebetulnya. Bahkan mungkin menyebalkan menurut beberapa orang. aku bilang,"Hanya ingin melewatinya saja karena suamiku yang menyuruh aku untuk menemaninya saat tes". "Kalau memang yang diterima hanya salah satu dari kami, dipikir setelah diterima saja, karena sekarang belum diumumkan." Entahlah. Aku tidak tahu.

Ketika dua temanku memilih ikut tes untuk menyatukan jarak anggota keluarganya, aku justru berpotensi menjauhkan jarak keluarga kami.

Banyak yang mencoba tes kemarin, bahkan sampai seribuan lebih peserta. Dengan tingkat kepintaran kognitif mereka, aku mungkin hanyalah peserta biasa. Kecerdasan rata-rata. IP yang biasa saja.Ketika banyak yang berharap semoga diterima dengan alasan ini dan itu, aku, menjadi makin menyadari betapa aku mendzolimi diriku sendiri. Dengan rasa ini, aku makin memahami kisah nabi Yunus ketika berdoa di dalam perut ikan dengan menyesali dirinya dan meminta pertolongan Allah. Sungguh, aku merasa dzalim. Aku merasa, Allah menghadirkan tes ini untuk menunjukkan kebesaran-Nya, menunjukkan bahwa Dialah yang Maha Benar dan berkuasa atas segala sesuatu; sedangkan aku hanyalah makhluk kecil, hina dina, yang suka membatasi ruang menjadi sempit.

Kisahnya berawal saat aku berta'aruf dengan suamiku. Saat penempatan instansi dimana kesedihan dalam hatiku teramat dalam. Penempatanku dihiasi dengan perasaan takut atas testimoni angkatan sebelumnya di instansi yang sama. Resiko di instansi ini adalah penempatan yang rigid, pelosok, tidak boleh ikut D4 (sehingga peluang kembali ke kampus juang sangat tipis), dan susah ikut suami. Aku sudah sangat terhujam pisau dengan kemungkinan jauh dari suami. Dan pula, kemungkinan kembali ke kampus yang kurindukan juga sudah sirna. Sakit sekali rasanya. Setiap hari seperti ada ganjalan di dada.

Lengkap sudah. Aku hanya bisa meratapi nasib. Menangis kepada Tuhanku dan membayangkan teman-temanku yang lain bisa kembali ke kampus yang membesarkan kami itu, mengajari kami banyak hal, menjadikan jiwa kami lebih hidup. Aku merasa sangat ciut dan menganggap Allah tengah marah kepadaku, dengan dosa yang mungkin tidak aku sadari. Aku terus mencari apa dosa yang tidak aku sadari itu. Aku merasa sedang dihukum oleh-Nya yang mengetahui tiap beslitan hati.

Pelan-pelan, satu demi satu momen terjadi, dan hingga kini, setiap kemungkinan menjadikan keluarganku indah. Apa yang aku takutkan di awal pelan-pelan tak terbukti. Justru, momen2 indah terukir. Hingga aku selalu solat dua rakaat saat waktu dhuha, selain solat dhuha itu sendiri agar salah satu harapanku terwujud dalam waktu yang dekat. Aku ingin mendapat beasiswa S1 internal instansiku dengan suatu motivasi tertentu.

Namun, sebelum ada momen itu, yang ajaib adalah tiba-tiba, secara mendadak ada pengumuman pendaftaran D4 STAN. Dan akupun nyaris sulit mempersiapkan diri dengan segala pekerjaan dan kesibukanku sebagai seorang ibu baru. Dan akhirnya, akupun menyadari bahwa beginilah Allah yang Maha Penyayang; yang menunjukkan bukti-bukti sayang-Nya. Dan jika aku tidak diterima adalah 100% kesalahanku. Dialah yang Maha sempurna, yang tak pernah luput dalam memperhatikan hamba-hamba-Nya.

Dan tes kemarin, sepertinya banyak yang lebih baik dariku. Aku ridlo Ya Allah atas pilihan-Mu, siapa yang Engkau pilih kembali ke kampus Indah itu. Engkaulah yang Maha Berkehendak. Dan ridloilah ikhtiarku. Sungguh aku merindukan kampus itu, namun, yang lebih baik dariku tentu saja yang akan mendapatkannya. Atas izin-Mu. Allahu a'lam. Aku menantikan keputusan-Mu.

2 komentar:

  1. saya menemukan blog mbak Ida, alhamdulillah :)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah^^...sebagian besar tulisannya adalah suatu tulisan spontan pra edit ukh

    BalasHapus