Minggu, 29 Desember 2013

Belajar Berdagang

Sepertinya blog ini adalah sarana curhat paling asyik. Namun, semoga ke depannya, pemikiran saya berkembang, sehingga curhat-curhat ini bisa dipetik manfaatnya atau nantinya blog ini bukan hanya sekedar curhat. :D.  Inilah sesi curhat berikutnya.
Ini adalah pertama kalinya bagiku. Ya, baru pertama kalinya selera untuk berdagang ini kemudian muncul dalam benak ku. Sebelumnya saya belum pernah berniat berdagang. Merasa tidak berbakat, merasa sepertinya pekerjaan kantor sudah cukup menyita waktu, atau merasa tidak punya minat berdagang. Kemudian, hari demi hari dijalani sebagai seorang PNS Kementerian Keuangan yang bertugas di KPPN Solok, Sumatera Barat. Pelan-pelan, penat bekerja sedikit terasa. Penat itu kemungkinan berasal dari jiwa yang kurang jernih sehingga tidak peka dan pasif. Mendapat gaji bulanan yang terus menerus, seolah membuat pisau hati kurang peka akan konsep rizki. Ini tentu saja untuk aku pribadi. Sementara, aku juga tipe orang yang terlalu tidak suka banyak membeli barang, kecuali barang yang pokok saja, dan bukanlah barang pernak-pernik.

Hm.., baiklah, kini aku di Solok, dimana jiwa berbisnis, berwirausaha dan berdagang sangat besar. Meskipun, tak jarang aku melihat toko atau lapau yang baru buka, kemudian tutup lagi karena tidak laku. Banyak juga cerita-cerita kecurangan pedagang yang berimplikasi pada kesan secara umum.

Di kota inilah kemudian saya mendapatkan selera untuk berdagang. Niat saya sebenarnya hanyalah untuk  lebih membesarkan jiwa, karena dengan berdagang, jiwa akan terasah untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang lain, membentuk jaringan, selain itu, jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, sabar adalah labanya. Sensasi mencoba dan mengetahui hasilnya kini ingin saya coba.

Dikaitkan dengan konsep rizki, berdagang membuat jiwa menjadi lebih peka dan bijak akan konsep rizki. Karena di dalamnya terdapat konsep ketidakpastian. Rizki pada dasarnya adalah balutan kepastian dalam bentuk ketidakpastian. Demikian saya bahasakan kembali konsep tersebut dari majalah Tarbawi. Majalah dwimingguan itu pernah membahas tentang konsep rizki para penjual keliling. Maka, pelan-pelan saya ingin menjajaki selera baru yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Ya Allah, tunjukilah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (QS. Al Kahfi:10).

Saya pribadi sangat menyukai konsep penulisan majalah Tarbawi tentang rizki yang diolah dengan pendekatan terhadap para penjual keliling yang tentu saja labanya tidak seberapa. Bahkan di sana dijelaskan ada pula penjual jasa perbaikan jam keliling. Padahal, di masa sekarang banyak jam tangan sama harganya dengan sebungkus nasi. Ironi memang. Juga, ketika dikatakan, seringkali kita merasa konsep rizki itu ilmiah jika yang mengungkapkannya adalah para praktisi yang sukses. Penulis di majalah tarbawi, menekankan kembali alur pemikirannya bahwa perlu juga kita tilik kembali konsep rizki itu dari para penjaja keliling yang hasilnya tidak seberapa, namun nilai-nilai kesyukuran dan keberkahan dirasakan dari mereka.

Itulah awal mula selera saya pelan-pelan berubah. Selera awal, kami jadi pembeli saja, namun atas dasar kasihan, kami membeli apa yang sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Dalam hal ini, suami saya yang selalu mengawalinya. Beliau kadang membawa gorengan, atau makanan lainnya saat pulang sambil bercerita tadi beli darimana. Beliau mencari pedagang yang sepi. Niatnya, infak terhadap penjualnya.

Suami saya bercerita pula tentang penjual martabak Mesir yang berjualan sepanjang malam. Ketika suami baru pulang dari ngaji sekitar pukul 1 malam, penjual martabak itu masih ada. Ia ditemani oleh istrinya yang sedang hamil muda. Sepertinya, pasutri itu baru menikah. Suami saya luluh dan kami beberapa kali membeli martabak darinya. Sang istri yang mengandung itu, setia menemani suaminya hingga larut malam untuk berjualan. Gerimis hati ini melihat keluarga itu.

Begitulah perputaran rizki yang Allah pergilirkan kepada makhluk-Nya. Rizki pada dasarnya adalah kepastian yang berbalut ketidakpastian. Pasti ada, pasti terjamin selama makhluk itu hidup. Namun, besarnya tidak pasti, dan cara mendapatkannya juga tergantung masing-masing makhluk. Maka, kembali pada jiwa ini, saya merasakan sedikit sekali syukur kepada Allah SWT atas semua ini.

Ya Allah, jadikan rizki kami rizki yang berkah dan janganlah kami tergolong pada orang-orang yang menumpuk emas dan perak karena ketamakan kami akan dunia. Dan jadikan rizki kami berada dalam perputaran yang Engkau ridloi. Engkaulah sebaik-baik pemberi rizki.

Keseimbangan jiwa juga ingin saya dapatkan ketika ada hak-hak saya yang belum terpenuhi sebagaimana mestinya sehingga semangat bekerja menjadi menurun. Misalnya, kenaikan grade yang seharusnya sudah saya dapatkan pada tahun 2013 ini. Selama saya bertanya pada teman-teman seangkatan, rupanya mereka sudah naik grade di tahun 2013 ini. Ada yang diurus di awal tahun, ada juga yang terlambat, namun akhirnya dirapel.

Di KPPN Solok, saya dan teman seangkatan saya belum mendapatkan kenaikan grade, dan beberapa pegawai tugas belajar juga kenaikannya tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Yang jelas, kami semua terlambat naik grade. Bukan karena kami bermasalah dalam kinerja, namun, sepertinya pihak yang berwenang dalam hal ini kurang memahami update peraturan yang ada. Kamipun lupa kroscek. Larut dalam kerja harian kami. Hingga kami sadar ketika bertemu dengan salah seorang teman dari KPPN lain ketika ada pelatihan di Jakarta. Nasi sudah menjadi bubur, tahun 2013 juga tinggal dua hari lagi. Sepertinya kenaikan grade kami tertunda 1 tahun tanpa rapel.  Sungguh sebenarnya ini sangat mengecewakan kami, mengingat pegawai yang kurang berkontribusi  di kantor justru dinaikkan grade-nya.

Saya merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil.  Seolah, ketika banyak pekerjaan kami yang dijadikan tameng, tapi masalah hak, kami didiamkan karena tidak pernah protes. Mungkin ini menandakan jiwa ini belum berlapang dada. Menggantungkan rizki pada suatu sistem. Maka kecewalah saya. Ibu Kepala kantor sudah mengupayakan sampai kantor pusat tentang hak kami yang tertunda ini, namun apalah daya, sampai sekarang entah tersangkut dimana, kami belum mendapatkan kabar gembira.

Maka dari itulah, jiwa ini perlu pembaharuan, perlu dilahirkan kembali agar lebih bijaksana dalam menghadapi apa yang ada hingga kemudian saya menemukan selera baru untuk menata hati dengan berdagang. Dengannya, saya mungkin akan merasakan sensasi ketidakpastian rizki. Berbeda dengan sebelumnya dimana setiap bulan mendapatkan suntikan penghasilan PNS.

Keasyikan berdagang entah akan saya rasakan seterusnya atau tidak saya tidak tahu, ini barulah langkah coba-coba yang saya rasa cocok untuk situasi jiwa saya sekarang. Plus, dulu pernah berfikir sayang sekali kalau saat pindah dari Sumatera Barat nanti saya tidak bisa bahasa Minang dan Berdagang. Maka, saya pikir saatnya menjadikan pola mutasi kementerian keuangan adalah sesuatu yang menyenangkan dengan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Semoga setiap langkah membawa keberkahannya masing-masing.

Percobaan pertama saya dalam berdagang adalah: bantal donat dan sedang berniat memasarkan produk mainan edukatif anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar