Usai berfoto kami memasuki tempat seminar dan saya merasakan makin romantisnya acara itu. Latar tempatnya seperti di resto dan pencahayaan yang lembut. Ketika masuk, Pak Cahyadi dan Bu Ida sudah menyampaikan pembukaan. Kami melewatkan sesi pemutaran video yang katanya bikin nangis trenyuh. Saat itu, saya sudah sangat bersyukur karena akhirnya suami mau ikut dan ada feeling acaranya oke banget.
Yang paling disayangkan adalah waktu yang terbatas. Hanya sampai dhuhur padahal pak Cah sudah banyak menyiapkan materi. Dan memang ya, kalau sudah jadi konselor itu, apa yang disampaikan tidak berasa teori. Kebanyakan adalah pengalaman yang benar-benar terjadi dan akhirnya kita bisa menyimpulkan sendiri mau kemana bahtera rumah tangga kita akan berlabuh.
Melihat pasangan pasangan dari mulai usia pernikahan muda hingga tua adalah pemandangan yang menyejukkan. Di sinilah, saatnya pasangan-pasangan itu mendaur ulang sampah sampah yang sudah tertumpuk dalam pojok rumah tangga mereka. Kembali menata ulang ruang jiwa untuk pasangan mereka, dan mencat dinding-dinding harapan yang mungkin sudah kusam dan pudar karena perubahan cuaca hati yang terus bergontaganti.
Pemateri pertama, Ibu Ida menyampaikan materi tentang visi keluarga. Saya bahas lebih lengkap di sini. Banyak celetukan berbasis pengalaman yang sering membuat pasangan-pasangan ini cekikikan, entah karena tersindir atau memang lucu betul hal-hal tentang berumah tangga. Tentang visi, itulah pertajaman yang harus segera diraih. Jika belum, mulailah dari sekarang, ini sangat vital bagi keluarga kita. Tanpanya, bahtera akan mudah diombang-ambingkan gelombang kehidupan fana. Visi-visi itu lantas diturunkan dalam bentuk misi-misi keluarga. Ini pulalah yang harus sudah atau segera durumuskan.
Sesi kedua, adalah tugas Pak Cah untuk men-charge kami. Beliau melakukan pendekatan tanya jawab tertulis dengan pertanyaan bertahap. Tahap satu adalah yang paling mudah, kemudian meningkat ke tahap sedang dan yang terakhir adalah yang paling membutuhkan banyak cerita meski hanya 1 pertanyaan.
Yang ingin saya garisbawahi adalah, keluarga itu sistem Ilahi, bukan hanya sekedar hubungan muamalat antara dua insan. Di dalamnya ada unsur taawun atau saling tolong menolong. Nah, di dalam unsur itu lebih detail mengandung senyawa saling pengertian, sabar, saling menanggung, dan saling memahami. Pernikahan adalah sesuatu yang bisa kita pertahankan hingga ke syurga karena Allah akan mempertemukan insan dengan siapa yang dia cintai. Layak kan untuk kita perjuangkan? Stop memendam masalah-masalah kecil, karena kata Bu Ida...masalah besar itu bisa berasal dari menumpuknya masalah kecil yang belum terselesaikan. Beliau mengibaratkannya dengan fenomena gunung es. Maka, komunikasi dengan pasangan menjadi penting.
Komunikasi intens dengan pasangan ini nanti akan ada hubungannya dengan pertanyaan tahap akhir pak Cah. "Kapan terakhir kali Anda mengenali pasangan Anda?"
Bisakah anda segera menjawabnya? Atau harus berfikir lama? Kalau saya, butuh waktu lama untuk menjawabnya dan jawabannya bisa jadi saya jarang ingin mengenal pasangan saya. Bisa jadi saya selama ini merasa perhatian padahal sebenarnya cuek.
Sudah dulu ya. Sudah malam...mau jam 1 nih...Bobok dulu. Dah capek nemenin suami yang lagi ngisi aplikasi pupns disambi nonton bola. InsyaAllah bersambung ke beberapa sesi. Tulisan ini adalah bentuk rasa syukur saya karena bisa hadir dalam seminar ciamik itu. Dan saya berkomitmen akan menuliskannya dan membagikannya. Semoga bermanfaat.
seminar
seminar