Selasa, 23 Agustus 2016

Seminar untuk Kami

Dhuha sudah tertunaikan, saat itu ponsel menunjukkan pukul sembilan lewat. Sudah terlambat pikir kami, tapi Fayyadh belum dititipkan ke pengasuhnya, Hana pun belum beranjak pergi bersama buleknya. Dengan sedikit kerepotan di awal acara akhirnya kami masih bisa menyisakan waktu yang ada. Setelah memarkir motor, kami memasuki ruangan yang terletak di lantai dua. Kami naik elevator yang mengantarkan kami ke tempat seminar. Sebelumnya, kami disambut ramah oleh panitia sembari menawarkan untuk foto berdua. Background beromansa bunga bunga pink nan segar. Kamipun berfoto dengan pose yang sederhana namun bagiku itu adalah pengalaman tak terlupakan. Ya, karena jarang sekali kami foto berdua seperti itu apalagi dengan kamera DSLR dan background mini studio semacam itu.

Usai berfoto kami memasuki tempat seminar dan saya merasakan makin romantisnya acara itu. Latar tempatnya seperti di resto dan pencahayaan yang lembut. Ketika masuk, Pak Cahyadi dan Bu Ida sudah menyampaikan pembukaan. Kami melewatkan sesi pemutaran video yang katanya bikin nangis trenyuh. Saat itu, saya sudah sangat bersyukur karena akhirnya suami mau ikut dan ada feeling acaranya oke banget.

Yang paling disayangkan adalah waktu yang terbatas. Hanya sampai dhuhur padahal pak Cah sudah banyak menyiapkan materi. Dan memang ya, kalau sudah jadi konselor itu, apa yang disampaikan tidak berasa teori. Kebanyakan adalah pengalaman yang benar-benar terjadi dan akhirnya kita bisa menyimpulkan sendiri mau kemana bahtera rumah tangga kita akan berlabuh. 

Melihat pasangan pasangan dari mulai usia pernikahan muda hingga tua adalah pemandangan yang menyejukkan. Di sinilah, saatnya pasangan-pasangan itu mendaur ulang sampah sampah yang sudah tertumpuk dalam pojok rumah tangga mereka. Kembali menata ulang ruang jiwa untuk pasangan mereka, dan mencat dinding-dinding harapan yang mungkin sudah kusam dan pudar karena perubahan cuaca hati yang terus bergontaganti. 

Pemateri pertama, Ibu Ida menyampaikan materi tentang visi keluarga. Saya bahas lebih lengkap di sini. Banyak celetukan berbasis pengalaman yang sering membuat pasangan-pasangan ini cekikikan, entah karena tersindir atau memang lucu betul hal-hal tentang berumah tangga. Tentang visi, itulah pertajaman yang harus segera diraih. Jika belum, mulailah dari sekarang, ini sangat vital bagi keluarga kita. Tanpanya, bahtera akan mudah diombang-ambingkan gelombang kehidupan fana. Visi-visi itu lantas diturunkan dalam bentuk misi-misi keluarga. Ini pulalah yang harus sudah atau segera durumuskan.

Sesi kedua, adalah tugas Pak Cah untuk men-charge kami. Beliau melakukan pendekatan tanya jawab tertulis dengan pertanyaan bertahap. Tahap satu adalah yang paling mudah, kemudian meningkat ke tahap sedang dan yang terakhir adalah yang paling membutuhkan banyak cerita meski hanya 1 pertanyaan.

Yang ingin saya garisbawahi adalah, keluarga itu sistem Ilahi, bukan hanya sekedar hubungan muamalat antara dua insan. Di dalamnya ada unsur taawun atau saling tolong menolong. Nah, di dalam unsur itu lebih detail mengandung senyawa saling pengertian, sabar, saling menanggung, dan saling memahami. Pernikahan adalah sesuatu yang bisa kita pertahankan hingga ke syurga karena Allah akan mempertemukan insan dengan siapa yang dia cintai. Layak kan untuk kita perjuangkan? Stop memendam masalah-masalah kecil, karena kata Bu Ida...masalah besar itu bisa berasal dari menumpuknya masalah kecil yang belum terselesaikan. Beliau mengibaratkannya dengan fenomena gunung es. Maka, komunikasi dengan pasangan menjadi penting. 

Komunikasi intens dengan pasangan ini nanti akan ada hubungannya dengan pertanyaan tahap akhir pak Cah. "Kapan terakhir kali Anda mengenali pasangan Anda?"
Bisakah anda segera menjawabnya? Atau harus berfikir lama? Kalau saya, butuh waktu lama untuk menjawabnya dan jawabannya bisa jadi saya jarang ingin mengenal pasangan saya. Bisa jadi saya selama ini merasa perhatian padahal sebenarnya cuek. 

Sudah dulu ya. Sudah malam...mau jam 1 nih...Bobok dulu. Dah capek nemenin suami yang lagi ngisi aplikasi pupns disambi nonton bola. InsyaAllah bersambung ke beberapa sesi. Tulisan ini adalah bentuk rasa syukur saya karena bisa hadir dalam seminar ciamik itu. Dan saya berkomitmen akan menuliskannya dan membagikannya. Semoga bermanfaat.

seminar

Namaku yang indah

Nurhidayati....
Konon, katanya, nama ini diberikan oleh almarhum kakek saya, ayah dari bapak saya ketika bapak saya belum menemukan nama untuk saya. Dan saya sangat bersyukur...dengan nama dari beliau..dan akan saya kenang sepanjang hidup saya.

Nurhidayati,

Cahaya Petunjuk.....
Pasaran memang sih, ya karena artinya bagus, jadi banyak yang memakainya...

Hidayah itu benar-benar mutlak milik Allah. Bisa dikatakan, dialah anugrah terindah dari Allah. Untuk memperolehnya, ternyata tidak bermula dari lingkungan yang kondusif atau melulu mendengarkan kajian islami. Dari lingkungan yang burukpun, jika Allah menghendaki, hidayah itu akhirnya bisa didapat.

Yang diperlukan kita, sebagai manusia yang tidak tau kapan ajal menjemput adalah ikhtiar. Mencari sumber-sumber hidayah dan berdoa agar mendapatkannya. Alquran...dengan bahasanya yang khas dan lembut bagi qalbu, adalah sumber hidayah utama. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat muhkamat yang langsung bisa cless  di jiwa. Inilah yang kemudian menjadi jalan menuju hidayah.

Alquran itu sumber ilmu dan semacam moisturizer bagi jiwa. Kondisi demikian saya rasakan ketika beranjak ke dunia kerja, dimana saya merasa keteteran bukan hanya sehari dua hari, namun bisa dibilang dalam jumlah tahun, dengan peran saya yang berganti dari hanya seorang mahasiswa, kemudian menikah, sebagai istri, kemudian menjadi ibu. Dunia seolah berbeda. Saya harus menemukan keseimbangan baru. Dan saya mengakui, tidak mudah bagi saya untuk menemukan keseimbangan baru itu.

Ternyata, saya menyadari betapa lemahnya saya dengan segala perasaan dan pemikiran atas perubahan kondisi, bagaimana menentukan prioritas-prioritas untuk peran yang baru. Sekarang, dengan kemudahan dari Allah bisa dibilang saya sedang beranjak hampir menemukannya. Saya sudah kembali intens dengan alquran dan rasanya, cless...seperti yang ingin saya rasakan kembali.

Ya Allah semoga engkau tidak mencabut nikmat yang Engkau berikan untuk dekat dengan Alquran atas dosa-dosa yang tidak aku sadari.

Peran seseorang tidak hanya dalam konteks intrapersonal saja, tidak hanya kemudian menjadi soleh solehah, tapi kemudian dituntut untuk menjadi muslih. Saya kok ya kemudian sadar bahwa keseimbangan baru itu sangat sesegera mungkin saya perlukan. ya iya, lha wong saya itu orangnya bukanlah sosok-sosok berpengaruh. Saya lebih kepada orang yang peduli...diam...dan berfikir. Lhah, orang macam begini akan cenderung diam pada ranah sosial kemasyarakatan kan? Kalau orang sudah wataknya cerewet akan lebih mudah diterima masyarakat kan? dan akan lebih mudah berinteraksi dengan sesamanya.

Nah, saya kok ya merasa kalah banget dalam ranah ini. logika saya adalah diam, memperhatikan, berkesimpulan...Ya Allah...saya makin sadar saya harus berubah...tapi sungguh sulit. Apalagi kalau apa yang saya lakukan ternyata masih saja kurang di mata orang lain...sedih banget rasanya...trus cenderung diam dan menarik diri...introvert banget lah pokoknya.

Jadi, dalam rangka mencari jati diri..ehm...kayak anak abg aja...dan mencari pemaknaan hidup lewat pemaknaan nama...orang yang sudah berumur 28 tahun ini harus jauh lebih banyak menggali potensinya..jangan selalu merasa salah berkepanjangan dengan semua cobaan...harus bangkit dan bangkit.(mungkin tentang cobaan kecil sebelum ini akan saya bahas di tulisan selanjutnya).

Saatnya bangkit sekarang juga!!!!! no excuse..