Rabu, 10 Desember 2014

Kehamilan Kedua

Hana sudah 2,5 tahun. Cukup ideal bila akhirnya sebentar lagi berbagi dengan adiknya. Beberapa bulan kemarin, aku sudah tidak mengalami haid lagi. Haid terakhir aku jalani pada minggu pertama di tempat kerja baru, di KPPN Jakarta I. Setelah itu, bulan-bulan berikutnya aku tidak haid lagi. Dengan kantor baru yang jauh lebih susah dijangkau daripada di KPPN Solok dulu, akupun sedang beradaptasi. Lalu lintas Jakarta, pekerjaan kantor menjelang akhir tahun, dan lingkungan baru, membuat aku belum menemukan dimana aku harus memerikasakan kandunganku. Hingga kemarin, ketika kehamilanku menuju 3 bulan, aku memerikasakannya di Bidan dekat rumah. Alasannya, terjangkau dari segi jarak dan waktu.

Namun, sebenarnya aku masih belum puas karena belum pernah di-USG. Aku ingin lebih meyakinkan bahwa bayiku baik-baik saja lewat USG. Hanya saja, aku ingin sekali USG di dokter-dokter perempuan agar lebih  nyaman. Dokter yang banyak direkomendasikan berada Rumah Sakit Ciputat atau ketika dekat rumah, beliau praktek di pagi hari ketika aku sedang di kantor.

Untuk tahun depan ini, berganti ke tahun 2015, semoga aku bisa menemukan jadwal yang lebih baik atau bisa mengambil cuti tahunan. Ini efek cuti tahunan tahun 2014 sudah habis sih.

Di kehamilan keduaku ini, aku melewatinya dengan empet-empetan di kereta tiap pagi dan pulang kantor, plus jalan kaki kurang lebih 15 menit untuk menjangkau angkot ke stasiun. Aku biasa pakai angkot nomor 08 dari Tanah Abang ke kantor. Angkot itu berhenti sampai Harmoni dan aku melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke kantor. Begitupun ketika pulang kerja.

Dengan frekuensi pekerjaan akhir tahun plus adaptasi di lingkungan baru juga, aku sering lembur. Minimal satu jam, maksimal 3 jam sampai jam 8 malam. Biasanya paling lama aku sampai di rumah jam 9 malam. Alhamdulillah, itu masih cukup longgar dengan adanya pengurangan beban kerja KPPN Jakarta I. Dengan adanya 2 KPPN baru di Jakarta, satker kami dikurangi lumayan banyak dan konon, kata para juru kunci KPPN Jakarta I, satker yang dilimpahkan adalah satker-satker yang membuat beban kerja kami melimpah..hehe...Dulu, pulang jam 11 malam biasa saja.

Meskipun demikian, keunikan KPPN Jakarta I masih dipertahankan, yakni mengurusi ring I (satu)  negeri ini. Satker kami adalah Istana Negara dan sekitarnya. Sekretariat Kabinet, Sekretariat Negara, Kemenlu, TNI, dll. SKPP Presiden SBY pun diproses di KPPN Jakarta I. Dengan begitu, satker yang kami layani adalah satker-satker berkebutuhan khusus.

Pengalaman unik yang baru aku alami kemarin adalah ketika tiba-tiba Kepala Seksiku menunjuk aku sebagai Kepala seksi bayangan. Sebelumnya, tugas ini dipegang oleh Mbak Leila, the strong woman KPPN Jakarta I, sekaligus DSU SPAN. Dengan cutinya beliau karena melahirkan, kursi panas diwariskan ke bumil lagi. Itulah aku. Dengan pengetahuanku yang minim tentang SPAN, aku harus melakukan tugas kepala seksi bayangan yang menangani pendaftaran kontrak dan supplier. Dan tanpa sadar ternyata aku juga menjadi DSU pengganti. What...How must I do?

Dengan komposisi SDM KPPN Jakarta I aku sudah bersiap menjadi anak bawang, santai bisa tidur sejenak di siang hari, pulang tepat jam lima sore. Tidur siang di kantor belum pernah aku rasakan di Solok, hehe. Di sini, justru aku merasakannya, efek lalu lintas yang sedemikian di Jakarta. Hingga amanah itupun datang.

Hari pertama, semua mata tertuju padaku. Setiap orang menyapa, apakah aku sudah bisa atau belum? aku merasa nampak diragukan, ya gak apalah, kan masih junior bingitzz. Apalagi bumil, rumah jauh pula. Tak pernah ikut pelatihan SPAN sebelumnya Tak jarang banyak yang menawarkan bantuan. karena berada di kursi itu, berarti harus siap tidak tidur siang. Istirahat lebih pendek, pulang tidak tepat jam lima. Kondisi ini awalnya membuat suami agak jengah. Sebelumnya, aku diminta harus sudah pulang jam lima sore. Ketika sesekali aku lembur, suamiku tidak setuju. Dan akupun tidak pernah berfikir mendapatkan kepercayaan semacam itu.

Dengan empati yang tinggi dari mbak-mbak rekan kerja, mereka berinisiatif untuk bicara kepada kepala seksi agar aku digantikan oleh pegawai laki-laki saja agar lebih fleksibel. Bisa pulang malam kapan saja. dengan kayak gitu sih aku sebenarnya merasa tidak dipecaya karena aku merasa bisa kok, kikuk di awal kan biasa. Akhirnya aku juga bisa menguasainya. namun, sangat senang juga ketika akhirnya tidak teru-terusan membawa tanggung jawab itu sehingga aku lebih santai. Akhirnya cuma seminggu lebih aku berada di sana, dan selanjutnya aku kembali ke pekerjaanku sebelumnya. Alhamdulillah tidak banyak maslaah selama aku di sana karena ada banyak yang mau menjawab jika aku bertanya. Jadi dapat ilmu baru, dan tugas semakin ringan ketika ada tambahan tenaga dari anak-anak baru yang sedang OJT. Meskipun begitu, aku tetap lembur hampir setiap hari.

Suamiku pun pelan-pelan memahaminya. Siap antar jemput di Stasiun Pondok Ranji bersama Hana. Begitulah kehamilan kedua ini. Semoga dimudahkan hingga bisa melahirkannya dengan selamat. Atau Allah menghadiahi mati syahid. Jika kehamilan Hana dulu lebih banyak naik pesawat dalam rangka dinas luar atau bahkan prajabatan, kehamilan kedua ini aku stay saja, namun juga memerlukan perjuangan yang konsisten agar tidak collaps. Alhamdulillah hingga kini badan sehat, jarang mual muntah dan amsih bisa mengerjakan pekerjaan berat seperti mencuci baju menggunung di akhir pekan sambil mengasuh Hana, plus aktifitas weekend lainnya.

Ya Allah kuatkanlah kami, dengan aktifitas suami sebagai Ketua MBM dan tipe suami yang banyak aktifitas di luar (hobi olah raga sih), aku yang berangkat jam 6.15 pulang malam, plus belum ada khadimat, semoga dikuatkan di kehamilan kedua ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar