KPPN oh KPPN, beginilah ritme kerja ketika sudah menuju akhir tahun. Sudah menjadi rutinitas juga bahwa sebelum bulan November, akan ada peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan tentang Langkah-Langkah Dalam Menghadapi Akhir Tahun. Di dalamnya tertulis hal-hal rinci terkait apa yang harus dilakukan dan kapan batas waktunya. Misalnya, SPM -LS harus sudah selesai diajukan tanggal 17 Desember 2012, SPM-GU pada tanggal 14 Desember 2012 dengan batas toleransi satu hari (ini sih yang di KPPN kami). Brgitulah, akhirnya seksi pencairan dana sebagai ujung tombak KPPN sampai lembur semalaman. Bahkan akhirnya sampai pagi tadi.
Yang menjadi fokus perhatian saya kemudian adalah kepala seksi pencairan dana. Beliau adalah seorang perempuan. Dan itu adalah salah satu keistimewaan KPPN Solok. kepala seksi verifikasi dan akuntansi juga adalah seorang perempuan. Dan, yang lebih seru lagi, kepala kantornya juga seorang perempuan. Jadi, Kepala kantornya perempuan dan setengah dari semua seksi yang ada dipimpin oleh perempuan pula.
Untuk Bu Elwy Syahdely, kepala seksi pencairan dana, sudah memiliki empat anak dan salah satunya masih usia balita. Demikianlah tantangan beliau. Dengan tubuh ramping beliau, tersimpan kekuatan besar. Akhirnya, muara pembicaraan ini adalah tentang tanggungjawab seorang wanita karier. Tentang pandangan ke depan seorang wanita juga yang saat ini sedang merangkai kata dengan tuts komputer di depannya.
Untuk saat ini, wanita ini sudah sangat beruntung dengan dimudahkan urusannya oleh Allah SWT. Betapa tidak. Isak tangis khawatirnya berbulan-bulan lalu dijawab Allah dengan kemudahan nan menentramkan. Ketika hamil, jarang sekali tubuhnya lemas dan pusing. Alhamdulillah masih bisa bekerja dengan normal. Cuti bersalin dan cuti tahunan hasil rapelan tahun 2011 disatukan. Akhirnya dapat jatah cuti empat bulan selama mempersiapkan kelahiran si jabang bayi.
Wanita ini selalu berharap agar baby-nya lahir sebelum tanggal perkiraan agar ketika dibawa kembali Solok sudah agak besar. Alhamdulillah itupun terkabul. Hana lahir satu minggu sebelum HPL-nya dengan keadaan sehat dan normal.Dengan begitu, Hana dibawa naik pesawat terbang, sekali transit dalam usia 2 bulan. Kurang ideal sebenarnya untuk naik pesawat. Hanya saja, dokter membolehkan. Alhamdulillah juga, apa yang dikhawatirkan terkait telinganya tidak terjadi. Hana sehat walafiat hingga sekarang. Untuk kisah kelahiran Hana insyaAllah akan saya abadikan dalam tulisan pada kesempatan yang lain
Alhamdulillah pula, kantor di Solok memiliki rumah dinas yang lumayan. 14 unit. dan saya mendapatkan salah satunya. Jadi, tidak perlu berjalan lama ke kantor. Cukup tiga menit jalan santai saja. Itu memudahkan saya untuk memantau anak saya ketika pekerjaan tidak terlalu menumpuk. Hanya saja, kala itu, ragu masih menggelayuti hati. Saya dan suami masih belum menemukan pengasuh untuk Hana. Solusi paling dekat adalah dititipkan ke penitipan anak dengan jarak kurang lebih lima kilometer dari rumah. Agak kasihan juga sebenarnya. Pagi-pagi dengan suhu yang dingin, Hana harus dibawa naik motor ke kota Solok. Hanya itu jalan satu-satunya menurut kami yang terbaik. Sebetulnya, ibu kepala kantor sudah mengizinkan membawa Hana ke kantor saja. Ditaruh di perpustakaan di lantai dua. Kebetulan ruangan saya juga dekat perpustakaan tersebut. Hanya saja, kurang enak hati dengan cara itu. Kalau berlangsung terus menerus tidak enak juga dengan pegawai yang lain.
Hari Selasa malam saya sampai Solok. Hari jumat pagi, ibu-ibu kantor datang menjenguk dalam keadaan Hana belum punya pengasuh. Sayapun masih mencuci sendiri popok Hana yang agak lumayan tiap harinya, karena Hana cukup sering pipis. Repot sekali rasanya. Dan juga karena saya memutuskan memberi ASI eksklusif untuk anak saya, waktupun banyak saya gunakan untuk Hana. Saya jadi berfikir bagaimana nanti kalau tidak juga menemukan pengasuh atau orang yang membereskan rumah saya. Berarti, saya harus kerja lebih ekstra. Awalnya, jujur ada ganjalan di hati. Merasa suami tidak banyak membantu, semua beban ada di saya. Namun, sekali lagi itulah salah saya. Saya mungkin belum benar-benar ikhlas dan memahami tugas utama saya. Astaghfirullahualadzim. Untung suami saya orang yang ruhiyahnya bagus. Pelan-pelan beliau menasihati saya tentang arti keikhlasan. Memang moment-nya sedang seperti demikian kok, ya jalani saja dengan ikhlas. Capekpun akan hilang. hehe, suamiku penyejuk hatiku.
Dalam diamnya suamiku, ada kebijaksanaan dan doa. Setelah hari jumat itu, lanjut ke hari sabtu, dan bermuara ke hari Ahad, kebutuhan kami terjawab sudah. Tepat satu hari menjelang berangkat kerja, kami menemukan pengasuh Hana. Dan alhamdulillah juga pengasuh Hana awet hingga sekarang. Terhitung hampir enam bulan beliau ada di rumah kami. Sesosok umi yang tidak memiliki keturunan, dan tinggal sendirian di rumah. Suaminya telah menikah lagi. Dulunya beliau adalah seorang guru ngaji di kampungnya, pernah beberapa kali merantau ke daerah-daerah sumatera dan berjilbab 'rapi' pula.
Sungguh menenangkan hati. Dan beliau juga berpengalaman dalam mengasuh anak kecil karena basis keluarganya dulu adalah dukun bayi. Mungkin tidak pula terlalu berpengalaman secara akademik dan medis, namun lumayan untuk menjaga Hana kami.
Begitulah bait demi bait masalah terpecahkan dengan mudahnya atas izin Allah. Lalu, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Semoga tulisan ini bisa membawaku menuju kebaikan. Semoga Allah mencatatnya sebagai kebaikan, bukan malah sebagai kemudharatan karena memakai fasilitas kantor, ketika pekerjaan tidak terlalu menumpuk sedangkan pulang kantornya sore hari nanti. Jadi, iseng-iseng daripada nganggur.
So, yang lagi dirundung masalah, yakinlah semua itu akan segera berlalu dengan mudahnya. Tantangan-tantangan pasti akan datang silih berganti. Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang pandai mengeluh, dan sedikit mengingat nikmat Allah. Justru, akdang tantangan-tantangan itu akan kita rindukan kelak dikemudian ahri karena itulalah yang kemudian membentuk jiwa kita.
Keep spirit. Allahu ma'ana
p.s. bagi pembaca, doakan saya untuk menemukan petunjuk dari-Nya tentang langkah terbaik menjadi seorang ibu yang berkarier di kementerian keuangan. Doakan agar menemukan jawaban paling diridloi tentang bagaimana nanti saya ke depan. Bisa jadi tetap bekerja, meningkatkan karier atau bisa jadi resign saja. Semoga apapun itu adalah yang paling afdhol bagi kami dan dicatat sebagai kebaikan untuk kami. Allahu a'lam.
Senin, 17 Desember 2012
Kamis, 06 Desember 2012
Probabilitas, Tawakkal, dan Harapan
Kemarin, kami bersama-sama melaju dengan sebuah mobil, melewati jalanan yang kanan dan kirinya adalah tepi perbukitan. Kadang, tampak tepi bukit itu terpotong untuk dibuat jalan lintas kota. Di satu sisi, bukit yang tinggi, di sisi yang lain jurang menganga yang tak terlalu tampak oleh rimbun pohon-pohon monokotil serupa pandan namun tinggi, diselingi pula oleh semak belukar dari paku-pakuan yang lebih besar dari yang biasa aku jumpai di sekitar rumahku dulu.
Ketika melewati jalan ini, aku sering berfikir, disinikah akhir hidupku? ketika semisal mobil yang kutumpangi masuk ke jurang itu. Mungkin pula sebelumnya sudah ada beberapa insan yang mengalami hal serupa, entah berakhir selamat atau maut. Kadang pula, aku harus berangkat malam hari untuk suatu urusan ke pulau lain, atau kota lain. Jadi, aku sering saja membiarkan rasa takut itu menguap tanpa kuhiraukan agar tidak permanen mengendap di hatiku.
Di tempat seperti inilah tiga remaja bercengkerama tentang masa depan mereka, tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang akan mereka jalani sebagai seorang PNS di sebuah instansi yang memiliki tantangan tersendiri. Bekerja berpindah-pindah dan penempatan yang sampai pelosok negeri.
Pada dasarnya, alasan kuat untuk memutuskan sesuatu bagi kebanyakan dari kami adalah, ingin dekat dengan keluarga. Entah suami, istri, atau ayah ibu. Perjuangan di Padang dua hari kemarin sebagian besar adalah didasari untuk penempatan yang lebih baik. Dan di sinilah aku, seperti yang sudah-sudah, aku selalu tidak tahu berada di posisi yang ingin seperti apa. Seolah setiap posisi yang aku bayangkan selalu memiliki imbas yang baik, dan buruk sebagai pasangannya. Setiap keberadaanku pada dasarnya adalah probabilitas untuk bersyukur atau kufur. Ketika aku kemudian ditanya, kenapa aku mengikuti ujian itu, padahal sudah bersama dengan suamiku; dengan kata lain, keputusan tes itu mungkin malah bisa membuat kami berpisah jarak; masih saja aku menjawab tidak tahu. Itu bukanlah jawaban yang bagus sebetulnya. Bahkan mungkin menyebalkan menurut beberapa orang. aku bilang,"Hanya ingin melewatinya saja karena suamiku yang menyuruh aku untuk menemaninya saat tes". "Kalau memang yang diterima hanya salah satu dari kami, dipikir setelah diterima saja, karena sekarang belum diumumkan." Entahlah. Aku tidak tahu.
Ketika dua temanku memilih ikut tes untuk menyatukan jarak anggota keluarganya, aku justru berpotensi menjauhkan jarak keluarga kami.
Banyak yang mencoba tes kemarin, bahkan sampai seribuan lebih peserta. Dengan tingkat kepintaran kognitif mereka, aku mungkin hanyalah peserta biasa. Kecerdasan rata-rata. IP yang biasa saja.Ketika banyak yang berharap semoga diterima dengan alasan ini dan itu, aku, menjadi makin menyadari betapa aku mendzolimi diriku sendiri. Dengan rasa ini, aku makin memahami kisah nabi Yunus ketika berdoa di dalam perut ikan dengan menyesali dirinya dan meminta pertolongan Allah. Sungguh, aku merasa dzalim. Aku merasa, Allah menghadirkan tes ini untuk menunjukkan kebesaran-Nya, menunjukkan bahwa Dialah yang Maha Benar dan berkuasa atas segala sesuatu; sedangkan aku hanyalah makhluk kecil, hina dina, yang suka membatasi ruang menjadi sempit.
Kisahnya berawal saat aku berta'aruf dengan suamiku. Saat penempatan instansi dimana kesedihan dalam hatiku teramat dalam. Penempatanku dihiasi dengan perasaan takut atas testimoni angkatan sebelumnya di instansi yang sama. Resiko di instansi ini adalah penempatan yang rigid, pelosok, tidak boleh ikut D4 (sehingga peluang kembali ke kampus juang sangat tipis), dan susah ikut suami. Aku sudah sangat terhujam pisau dengan kemungkinan jauh dari suami. Dan pula, kemungkinan kembali ke kampus yang kurindukan juga sudah sirna. Sakit sekali rasanya. Setiap hari seperti ada ganjalan di dada.
Lengkap sudah. Aku hanya bisa meratapi nasib. Menangis kepada Tuhanku dan membayangkan teman-temanku yang lain bisa kembali ke kampus yang membesarkan kami itu, mengajari kami banyak hal, menjadikan jiwa kami lebih hidup. Aku merasa sangat ciut dan menganggap Allah tengah marah kepadaku, dengan dosa yang mungkin tidak aku sadari. Aku terus mencari apa dosa yang tidak aku sadari itu. Aku merasa sedang dihukum oleh-Nya yang mengetahui tiap beslitan hati.
Pelan-pelan, satu demi satu momen terjadi, dan hingga kini, setiap kemungkinan menjadikan keluarganku indah. Apa yang aku takutkan di awal pelan-pelan tak terbukti. Justru, momen2 indah terukir. Hingga aku selalu solat dua rakaat saat waktu dhuha, selain solat dhuha itu sendiri agar salah satu harapanku terwujud dalam waktu yang dekat. Aku ingin mendapat beasiswa S1 internal instansiku dengan suatu motivasi tertentu.
Namun, sebelum ada momen itu, yang ajaib adalah tiba-tiba, secara mendadak ada pengumuman pendaftaran D4 STAN. Dan akupun nyaris sulit mempersiapkan diri dengan segala pekerjaan dan kesibukanku sebagai seorang ibu baru. Dan akhirnya, akupun menyadari bahwa beginilah Allah yang Maha Penyayang; yang menunjukkan bukti-bukti sayang-Nya. Dan jika aku tidak diterima adalah 100% kesalahanku. Dialah yang Maha sempurna, yang tak pernah luput dalam memperhatikan hamba-hamba-Nya.
Dan tes kemarin, sepertinya banyak yang lebih baik dariku. Aku ridlo Ya Allah atas pilihan-Mu, siapa yang Engkau pilih kembali ke kampus Indah itu. Engkaulah yang Maha Berkehendak. Dan ridloilah ikhtiarku. Sungguh aku merindukan kampus itu, namun, yang lebih baik dariku tentu saja yang akan mendapatkannya. Atas izin-Mu. Allahu a'lam. Aku menantikan keputusan-Mu.
Ketika melewati jalan ini, aku sering berfikir, disinikah akhir hidupku? ketika semisal mobil yang kutumpangi masuk ke jurang itu. Mungkin pula sebelumnya sudah ada beberapa insan yang mengalami hal serupa, entah berakhir selamat atau maut. Kadang pula, aku harus berangkat malam hari untuk suatu urusan ke pulau lain, atau kota lain. Jadi, aku sering saja membiarkan rasa takut itu menguap tanpa kuhiraukan agar tidak permanen mengendap di hatiku.
Di tempat seperti inilah tiga remaja bercengkerama tentang masa depan mereka, tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang akan mereka jalani sebagai seorang PNS di sebuah instansi yang memiliki tantangan tersendiri. Bekerja berpindah-pindah dan penempatan yang sampai pelosok negeri.
Pada dasarnya, alasan kuat untuk memutuskan sesuatu bagi kebanyakan dari kami adalah, ingin dekat dengan keluarga. Entah suami, istri, atau ayah ibu. Perjuangan di Padang dua hari kemarin sebagian besar adalah didasari untuk penempatan yang lebih baik. Dan di sinilah aku, seperti yang sudah-sudah, aku selalu tidak tahu berada di posisi yang ingin seperti apa. Seolah setiap posisi yang aku bayangkan selalu memiliki imbas yang baik, dan buruk sebagai pasangannya. Setiap keberadaanku pada dasarnya adalah probabilitas untuk bersyukur atau kufur. Ketika aku kemudian ditanya, kenapa aku mengikuti ujian itu, padahal sudah bersama dengan suamiku; dengan kata lain, keputusan tes itu mungkin malah bisa membuat kami berpisah jarak; masih saja aku menjawab tidak tahu. Itu bukanlah jawaban yang bagus sebetulnya. Bahkan mungkin menyebalkan menurut beberapa orang. aku bilang,"Hanya ingin melewatinya saja karena suamiku yang menyuruh aku untuk menemaninya saat tes". "Kalau memang yang diterima hanya salah satu dari kami, dipikir setelah diterima saja, karena sekarang belum diumumkan." Entahlah. Aku tidak tahu.
Ketika dua temanku memilih ikut tes untuk menyatukan jarak anggota keluarganya, aku justru berpotensi menjauhkan jarak keluarga kami.
Banyak yang mencoba tes kemarin, bahkan sampai seribuan lebih peserta. Dengan tingkat kepintaran kognitif mereka, aku mungkin hanyalah peserta biasa. Kecerdasan rata-rata. IP yang biasa saja.Ketika banyak yang berharap semoga diterima dengan alasan ini dan itu, aku, menjadi makin menyadari betapa aku mendzolimi diriku sendiri. Dengan rasa ini, aku makin memahami kisah nabi Yunus ketika berdoa di dalam perut ikan dengan menyesali dirinya dan meminta pertolongan Allah. Sungguh, aku merasa dzalim. Aku merasa, Allah menghadirkan tes ini untuk menunjukkan kebesaran-Nya, menunjukkan bahwa Dialah yang Maha Benar dan berkuasa atas segala sesuatu; sedangkan aku hanyalah makhluk kecil, hina dina, yang suka membatasi ruang menjadi sempit.
Kisahnya berawal saat aku berta'aruf dengan suamiku. Saat penempatan instansi dimana kesedihan dalam hatiku teramat dalam. Penempatanku dihiasi dengan perasaan takut atas testimoni angkatan sebelumnya di instansi yang sama. Resiko di instansi ini adalah penempatan yang rigid, pelosok, tidak boleh ikut D4 (sehingga peluang kembali ke kampus juang sangat tipis), dan susah ikut suami. Aku sudah sangat terhujam pisau dengan kemungkinan jauh dari suami. Dan pula, kemungkinan kembali ke kampus yang kurindukan juga sudah sirna. Sakit sekali rasanya. Setiap hari seperti ada ganjalan di dada.
Lengkap sudah. Aku hanya bisa meratapi nasib. Menangis kepada Tuhanku dan membayangkan teman-temanku yang lain bisa kembali ke kampus yang membesarkan kami itu, mengajari kami banyak hal, menjadikan jiwa kami lebih hidup. Aku merasa sangat ciut dan menganggap Allah tengah marah kepadaku, dengan dosa yang mungkin tidak aku sadari. Aku terus mencari apa dosa yang tidak aku sadari itu. Aku merasa sedang dihukum oleh-Nya yang mengetahui tiap beslitan hati.
Pelan-pelan, satu demi satu momen terjadi, dan hingga kini, setiap kemungkinan menjadikan keluarganku indah. Apa yang aku takutkan di awal pelan-pelan tak terbukti. Justru, momen2 indah terukir. Hingga aku selalu solat dua rakaat saat waktu dhuha, selain solat dhuha itu sendiri agar salah satu harapanku terwujud dalam waktu yang dekat. Aku ingin mendapat beasiswa S1 internal instansiku dengan suatu motivasi tertentu.
Namun, sebelum ada momen itu, yang ajaib adalah tiba-tiba, secara mendadak ada pengumuman pendaftaran D4 STAN. Dan akupun nyaris sulit mempersiapkan diri dengan segala pekerjaan dan kesibukanku sebagai seorang ibu baru. Dan akhirnya, akupun menyadari bahwa beginilah Allah yang Maha Penyayang; yang menunjukkan bukti-bukti sayang-Nya. Dan jika aku tidak diterima adalah 100% kesalahanku. Dialah yang Maha sempurna, yang tak pernah luput dalam memperhatikan hamba-hamba-Nya.
Dan tes kemarin, sepertinya banyak yang lebih baik dariku. Aku ridlo Ya Allah atas pilihan-Mu, siapa yang Engkau pilih kembali ke kampus Indah itu. Engkaulah yang Maha Berkehendak. Dan ridloilah ikhtiarku. Sungguh aku merindukan kampus itu, namun, yang lebih baik dariku tentu saja yang akan mendapatkannya. Atas izin-Mu. Allahu a'lam. Aku menantikan keputusan-Mu.
Langganan:
Postingan (Atom)