Rabu, 22 Oktober 2014

Rumahku, Istanaku, Surgaku

Rumah, adalah sebuah bangunan yang bukan hanya sebentuk dinding. Namun rumah menjadi pengikat jiwa yang membentuk kenangan-kenangan bagi penghuninya.

Bagi sebagian orang, rumah adalah sarana investasi, dan bagi sebagian yang lain, ia adalah sumber ketentraman ruhani. Rumah adalah sesuatu yang menimbulkan kehangatan, kekeluargaan, dan ketenangan. Menjadikan pemiliknya memiliki wilayah privat yang  dapat merasakan me time.

Fungsi-fungsi rumah baik secara lahir ataupun batin bagi pemiliknya pernah dibahas dalam majalah tarbawi di edisi tempo dulu bingiitts . Dan dari sana, saya makin memahami mengapa saya sangat rindu dengan rumah orang tua yang masih berantakan sana sini-belum selesai direhab-di awal-awal perantauan saya. Kala itu, bahkan setelah menikah, ada rasa rindu yang dalam yang memacu kelenjar mata untuk mengeluarkan sekresinya. Rasa itu diperparah ketika suami meminta saya melahirkan di rumah mertua. Tapi alhamdulillah, kerinduan saya terhadap rumah orang tua terobati karena kemudian saya bisa melahirkan di kota kelahiran saya.


Kini, keluarga kecil kami sudah memiliki rumah sendiri. Rumah yang kami dapat dengan sangat mudahnya. Ya, bisa dikatakan sangat mudah dan cepat penyelesaiannya. Rumah itu adalah keinginan mertua saya, agar kami bermukim di Boyolali, lebih tepatnya di tanah kosong dekat rumah mertua meskipun, bisa dikatakan letaknya jauh dari pusat kota. Ialah sebuah dukuh kecil bernama Tariwetan, di Desa Sumber, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Kalau saya membandingkan dengan rumah orang tua  saya, secara duniawi, rumah kami berada di sebuah dukuh terpencil yang akan menyulitkan mobilitas kami. Jalan yang berlubang, jauh dari terminal, bandara, ataupun stasiun, sedangkan kami belum memiliki mobil untuk mengatasinya.

Selama ini, kami mudik Boyolali_Pati hanya dengan sebuah sepeda motor  Honda Mega Pro. Sungguh ngeri hati ini, dengan terpaksa ketika kami harus membawa anak kami berusia 1 tahun lebih dalam keadaan influenza saat mengendarai motor itu. Ya Allah, hancur sebenarnya hatiku, ketika apa yang aku rasa butuh, ternyata harus ditunda. Sedangkan yang belum kami butuhkan harus sudah kami penuhi.

Sebenarnya, mungkin aku belum sepenuhnya ikhlas dengan rumah baru kami. Memang sih, rumah itu dibangun hanya dengan biaya 130 juta Rupiah. 100 juta kami meminjam bank syariah, dan 30 juta adalah tabungan kami. Yang membuat design dan mengawasi pembangunannya adalah teman suami yang beliau seorang lulusan teknik sipil. Kami memilih desain yang paling sederhana dari beliau, namun lebih cukup luas dari desain rumah tipe 36. Rumah kami lumayan lebar dan tinggi. Material yang dipakaipun tidak asal. Teman kami memilihkan baja ringan (material ini baru booming menggantikan kayu kala itu), dan lantainya dari granit, bukan hanya keramik. Suasana desa kecil yang masih asripun dapat kami nikmati karena teman kami memberikan beranda di belakang rumah.

Kini, untuk rumah itu, kami harus mengangsur 2,7 jutaan sebulan selama 4 tahun. Cicilan itu bisa dikatakan sangat ringan ketika kami masih di Solok. Dengan penghasilan suami yang menjadi Account representative  di kantor pajak dan saya sebagai pegawai KPPN yang diperbolehkan menghuni rumah dinas, bahkan kami bisa dibilang jor-joran dalam beramal harta dan menghutangkan ke saudara ataupun teman.

Namun, ketika suami sudah D4/tugas belajar dan kami harus tinggal di Jakarta, kebutuhan meningkat. Pengeluaran untuk menitipkan anak meningkat drastis, kontrakan rumah juga aduhai sekali. Ditambah, suami makin kecil penghasilannya selama tugas belajar. Di masa-masa seperti ini, kami menjadi agak hati-hati mengeluarkan uang. Sementara, piutang yang lama belum bisa ditagih. Ya Allah, mungkin aku memang belum mampu sabar dan Engkau menginginkan aku lebih sabar lagi.

Dengan kondisi kejiwaan terbelit kebutuhan, hati ini merasakan bolak balik iman. Ketika iman menurun, ada rasa tidak rela atas rumah itu. Ya, karena rumah itu serasa tidak mungkin akan bisa kami manfaatkan sekarang atau dengan kata lain minim manfaat bagi kehidupan keluarga kecil kami, namun angsuran atasnya tetap berjalan.. Bisa dibilang rumah itu hanya akan kami manfaatkan jika pensiun nanti. Dengan demikian, sangat jauh manfaatnya dari arti rumah yang sebenarnya bagiku. Rumah itu kami bangun hanyalah berdasarkan motivasi bahwa mertuaku sangat ingin kami di sana. Padahal, dengan kondisi kami sebagai pegawai Kemenkeu, kami lebih membutuhkan rumah yang berada di sekitar kantor, dan itu biasanya di pusat kota.

Kantor paling dekat dari rumah adalah Solo atau Klaten, karena di Boyolali tidak ada KPPN. Dan untuk ke Solo atau Klaten kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lebih sekali perjalanan. Itu jika kami ingin menempati rumah itu, Bagiku itu sangat tidak kondusif. Hampir sama dengan pola hidup di Jakarta. Jadi, mau tidak mau selama belum pensiun, kami harus berfikir membeli rumah lagi atau mengontrak.

Kini, rumah itu ditinggali mertua karena renovasi rumah mertua belum selesai. Dan saya masih belum punya ide mau diapakan rumah itu mengingat letaknya yang kurang strategis dan tidak mungkin dikontrakkan. Yang ada dalam benak saya sejak dulu adalah rumah sebagai investasi atau sebagai hunian. Tapi kini, Allah menjadikan rumah kami sebagai alasan untuk berbakti kepada orang tua.

Kenapa saya menulis ini? Saya berharap ada yang menasihati saya, karena kadang hati ini masih berbolak balik. Kami bisa dikatakan keluarga baru yang masih bertahap membangun keluarga. Bisa dikatakan, masih mulai dari nol dan dengan kondisi keluarga kami yang pas-pasan, orang tua tidak bisa membantu dalam hal finansial. Kemudian, ketika dalam kondisi yang demikian, kami diuji dengan pilihan membahagiakan orang tua atau menyejahterakan keluarga kecil kami. Maksudnya, saya sendiri merasa sedikit sekali mencukupi kebutuhan kami, terutama anak kami. Bisa dikatakan, peralatan seadanya dalam mengasuhnya. Kadang ada rasa gimana gitu kalau anak teman dibeliin ini itu, sedangkan anak sendiri tidak punya.

Saya teringat akan cerita2 berbakti kepada orang tua, bahkan mendahulukan orang tua daripada keluarganya. Ada juga cerita Said Al Ghamidi, seorang qori' yang menolak untuk menjadi Imam Masjid Nabawi agar tidak jauh dari ibunya. Bahwa begitulah akhlak mulia. Hati bisa merasakan bahwa demikian adalah baik, tentram di hati. Namun, sekali lagi, ketika ujian datang sendiri kepada kita, ternyata tidak serta merta kita langsung ikhlas beramal. Apa mungkin hati saya kotor dan hitam, sehingga ketika cobaan demikian datang saya masih belum rela meraih ridlo-Nya. Kali ini saya merasa dipaksa untuk berakhlak mulia, dan saya sedang mencobanya.

Ketika ada pikiran terjepit kala harga kontrakan setinggi langit, gaji seuprit, sedangkan kebutuhan hidup tinggi saya menemukan buku Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah. Buku itu sedikit membuka mata hati saya, dan semoga saya istiqomah dengan petuah Pak Salim dalam buku itu. Saya berharap semoga rumah saya mengundang berkah, meskipun nihil harga di mata duniawi manusia. Semoga saya merelakannya meskipun saya makin terjepit membayar cicilannya, saya berharap semoga bermanfaat dan menguntungkan meskipun berada di daerah terpencil yang demikian.

Di sisi lain, masyarakat dan orang tua kami merasakan manfaat rumah kami. Rumah kami pernah menjadi musholla sementara ketika mushola desa kami direnovasi, dan kini orang tua kami menempatinya karena renovasi rumahnya belum selesai. Itulah cobaannya, ketika saya merasa lebih baik memprioritaskan manfaat bagi kami dulu, Allah membuka ladang amal sebelum kami memiliki rumah yang sebenarnya bagi kami. Ada perasaan seolah apa yang ada pada kami bukanlah milik kami, justru orang lainlah yang menikmatinya. Padahal, sebenarnya saya merasa bahwa kami membutuhkannya. Begitu pula dengan motor Mega Pro suami. Motor itu sedang dipakai oleh ipar saya yang memang sedang membutuhkannya. Memberi ketika kami sendiri butuh, ternyata tidak mudah menciptakan kerelaan yang demikian.

Atau, semoga rumah itu justru mengundang rizki agar kami bisa memiliki rumah lain yang lebih strategis dan memudahkan akses kami sehari-hari. Jiwa ini masih kecut ketika ada rasa bahwa orang tua kami tidak mengerti kebutuhan kami dan seolah memaksakan pilihan kami. Ketika rasa bahwa orang tua suami yang dari desa terpencil sangat sederhana pemikirannya sehingga kurang paham jika kami menjelaskan dinamika pekerjaan kami. Ya Allah semoga Engkau mengistiqomahkan aku dalam kebaikan. Teguhkanlah hatiku dalam jalan taqwa dan teguhkanlah aku agar optimis akan nikmat-Mu Ya Allah.

Semoga aku senantiasa merasa bahwa tidak ada yang sia-sia, dan Allah tidak akan lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Semoa Dia meridloi-Nya. Mau menggantikan rumah itu dengan rumah di surga.

Dan penutup kisah ini, adalah nasihat dari suami: bisa jadi apa yang berat ini membuat Allah memudahkan kita dalam hal lain. Ketika ikut suami kala suami tugas belajar adalah hal yang tidak mudah, Allah memudahkan dan mempercepatnya terjadi. Dengan datangnya pak Dirjen kami, suatu hal yang tidak biasa pak Dirjen datang ke KPPN kecil. Maka, berawal dari situ, permohonan saya ikut suami ke Jakarta sangat mulus. Mungkin ini adalah salah satu wasilah atas ridlo orang tua yang berbuah Ridlo Allah. Dan, bisa jadi kesempatan berkali-kali dan mudah dalam meraih D4 belum saya dapatkan karena hati ini belum rela atas amal tentang rumah kami. Padahal aku sangat ingin kembali ke kampus. Semoga bisa D4 dalam waktu yang tidak lama lagi atau Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Alangkah baiknya bagiku sekarang untuk senantiasa optimis akan kemurahan dan pengabulan doa-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar