Minggu, 29 Desember 2013

Belajar Berdagang

Sepertinya blog ini adalah sarana curhat paling asyik. Namun, semoga ke depannya, pemikiran saya berkembang, sehingga curhat-curhat ini bisa dipetik manfaatnya atau nantinya blog ini bukan hanya sekedar curhat. :D.  Inilah sesi curhat berikutnya.
Ini adalah pertama kalinya bagiku. Ya, baru pertama kalinya selera untuk berdagang ini kemudian muncul dalam benak ku. Sebelumnya saya belum pernah berniat berdagang. Merasa tidak berbakat, merasa sepertinya pekerjaan kantor sudah cukup menyita waktu, atau merasa tidak punya minat berdagang. Kemudian, hari demi hari dijalani sebagai seorang PNS Kementerian Keuangan yang bertugas di KPPN Solok, Sumatera Barat. Pelan-pelan, penat bekerja sedikit terasa. Penat itu kemungkinan berasal dari jiwa yang kurang jernih sehingga tidak peka dan pasif. Mendapat gaji bulanan yang terus menerus, seolah membuat pisau hati kurang peka akan konsep rizki. Ini tentu saja untuk aku pribadi. Sementara, aku juga tipe orang yang terlalu tidak suka banyak membeli barang, kecuali barang yang pokok saja, dan bukanlah barang pernak-pernik.

Hm.., baiklah, kini aku di Solok, dimana jiwa berbisnis, berwirausaha dan berdagang sangat besar. Meskipun, tak jarang aku melihat toko atau lapau yang baru buka, kemudian tutup lagi karena tidak laku. Banyak juga cerita-cerita kecurangan pedagang yang berimplikasi pada kesan secara umum.

Di kota inilah kemudian saya mendapatkan selera untuk berdagang. Niat saya sebenarnya hanyalah untuk  lebih membesarkan jiwa, karena dengan berdagang, jiwa akan terasah untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang lain, membentuk jaringan, selain itu, jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, sabar adalah labanya. Sensasi mencoba dan mengetahui hasilnya kini ingin saya coba.

Dikaitkan dengan konsep rizki, berdagang membuat jiwa menjadi lebih peka dan bijak akan konsep rizki. Karena di dalamnya terdapat konsep ketidakpastian. Rizki pada dasarnya adalah balutan kepastian dalam bentuk ketidakpastian. Demikian saya bahasakan kembali konsep tersebut dari majalah Tarbawi. Majalah dwimingguan itu pernah membahas tentang konsep rizki para penjual keliling. Maka, pelan-pelan saya ingin menjajaki selera baru yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Ya Allah, tunjukilah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (QS. Al Kahfi:10).

Saya pribadi sangat menyukai konsep penulisan majalah Tarbawi tentang rizki yang diolah dengan pendekatan terhadap para penjual keliling yang tentu saja labanya tidak seberapa. Bahkan di sana dijelaskan ada pula penjual jasa perbaikan jam keliling. Padahal, di masa sekarang banyak jam tangan sama harganya dengan sebungkus nasi. Ironi memang. Juga, ketika dikatakan, seringkali kita merasa konsep rizki itu ilmiah jika yang mengungkapkannya adalah para praktisi yang sukses. Penulis di majalah tarbawi, menekankan kembali alur pemikirannya bahwa perlu juga kita tilik kembali konsep rizki itu dari para penjaja keliling yang hasilnya tidak seberapa, namun nilai-nilai kesyukuran dan keberkahan dirasakan dari mereka.

Itulah awal mula selera saya pelan-pelan berubah. Selera awal, kami jadi pembeli saja, namun atas dasar kasihan, kami membeli apa yang sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Dalam hal ini, suami saya yang selalu mengawalinya. Beliau kadang membawa gorengan, atau makanan lainnya saat pulang sambil bercerita tadi beli darimana. Beliau mencari pedagang yang sepi. Niatnya, infak terhadap penjualnya.

Suami saya bercerita pula tentang penjual martabak Mesir yang berjualan sepanjang malam. Ketika suami baru pulang dari ngaji sekitar pukul 1 malam, penjual martabak itu masih ada. Ia ditemani oleh istrinya yang sedang hamil muda. Sepertinya, pasutri itu baru menikah. Suami saya luluh dan kami beberapa kali membeli martabak darinya. Sang istri yang mengandung itu, setia menemani suaminya hingga larut malam untuk berjualan. Gerimis hati ini melihat keluarga itu.

Begitulah perputaran rizki yang Allah pergilirkan kepada makhluk-Nya. Rizki pada dasarnya adalah kepastian yang berbalut ketidakpastian. Pasti ada, pasti terjamin selama makhluk itu hidup. Namun, besarnya tidak pasti, dan cara mendapatkannya juga tergantung masing-masing makhluk. Maka, kembali pada jiwa ini, saya merasakan sedikit sekali syukur kepada Allah SWT atas semua ini.

Ya Allah, jadikan rizki kami rizki yang berkah dan janganlah kami tergolong pada orang-orang yang menumpuk emas dan perak karena ketamakan kami akan dunia. Dan jadikan rizki kami berada dalam perputaran yang Engkau ridloi. Engkaulah sebaik-baik pemberi rizki.

Keseimbangan jiwa juga ingin saya dapatkan ketika ada hak-hak saya yang belum terpenuhi sebagaimana mestinya sehingga semangat bekerja menjadi menurun. Misalnya, kenaikan grade yang seharusnya sudah saya dapatkan pada tahun 2013 ini. Selama saya bertanya pada teman-teman seangkatan, rupanya mereka sudah naik grade di tahun 2013 ini. Ada yang diurus di awal tahun, ada juga yang terlambat, namun akhirnya dirapel.

Di KPPN Solok, saya dan teman seangkatan saya belum mendapatkan kenaikan grade, dan beberapa pegawai tugas belajar juga kenaikannya tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Yang jelas, kami semua terlambat naik grade. Bukan karena kami bermasalah dalam kinerja, namun, sepertinya pihak yang berwenang dalam hal ini kurang memahami update peraturan yang ada. Kamipun lupa kroscek. Larut dalam kerja harian kami. Hingga kami sadar ketika bertemu dengan salah seorang teman dari KPPN lain ketika ada pelatihan di Jakarta. Nasi sudah menjadi bubur, tahun 2013 juga tinggal dua hari lagi. Sepertinya kenaikan grade kami tertunda 1 tahun tanpa rapel.  Sungguh sebenarnya ini sangat mengecewakan kami, mengingat pegawai yang kurang berkontribusi  di kantor justru dinaikkan grade-nya.

Saya merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil.  Seolah, ketika banyak pekerjaan kami yang dijadikan tameng, tapi masalah hak, kami didiamkan karena tidak pernah protes. Mungkin ini menandakan jiwa ini belum berlapang dada. Menggantungkan rizki pada suatu sistem. Maka kecewalah saya. Ibu Kepala kantor sudah mengupayakan sampai kantor pusat tentang hak kami yang tertunda ini, namun apalah daya, sampai sekarang entah tersangkut dimana, kami belum mendapatkan kabar gembira.

Maka dari itulah, jiwa ini perlu pembaharuan, perlu dilahirkan kembali agar lebih bijaksana dalam menghadapi apa yang ada hingga kemudian saya menemukan selera baru untuk menata hati dengan berdagang. Dengannya, saya mungkin akan merasakan sensasi ketidakpastian rizki. Berbeda dengan sebelumnya dimana setiap bulan mendapatkan suntikan penghasilan PNS.

Keasyikan berdagang entah akan saya rasakan seterusnya atau tidak saya tidak tahu, ini barulah langkah coba-coba yang saya rasa cocok untuk situasi jiwa saya sekarang. Plus, dulu pernah berfikir sayang sekali kalau saat pindah dari Sumatera Barat nanti saya tidak bisa bahasa Minang dan Berdagang. Maka, saya pikir saatnya menjadikan pola mutasi kementerian keuangan adalah sesuatu yang menyenangkan dengan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Semoga setiap langkah membawa keberkahannya masing-masing.

Percobaan pertama saya dalam berdagang adalah: bantal donat dan sedang berniat memasarkan produk mainan edukatif anak.


Kamis, 19 Desember 2013

Team Building KPPN Solok











Jakarta-Solok Hingga Kini





Aripan, Solok (foto: Aries Munandar, KPPN Solok)
Beginilah kisah cerita keluarga ini sejak pertama kali mengikrarkan janji hingga saat ini. Alhamdulillah telah banyak sekali nikmat yang tak mampu kami menghitungnya satu per satu, bahwa keluarga ini, di bawah naungan rahmat Allah SWT telah menjalani lebih dari dua tahun kebersamaan kami dalam rumah sederhana tipe 36 di Kompleks KPPN Solok.

Masa awal pernikahan kami, Abu Raihana bolak balik Jakarta-Solok setiap tiga minggu sekali, naik motor Solok-Padang dan melanjutkan dengan armada udara sampai Bandar Udara Internasional  Soekarno-Hatta. Seringkali, beliau baru tiba di kosku hampir larut malam. Ketika aku sudah sangat letih, mencoba membuka mata namun tetap saja kemudian terlelap di atas kasur. Hingga handphone berbunyi yang rupanya adalah dari beliau yang menunggu di depan gerbang.

Jika sudah melihat beliau, hati ini tenang sekali rasanya. Alhamdulillah beliau sampai dengan selamat. Dan kemudian, Allah sangat memudahkan kami untuk bertemu dalam satu rumah di Solok ini. Dengan sangat mudahnya, setelah cemas berkepanjangan bahwa mengikuti beliau ke Solok adalah sesuatu yang jangan terlalu diharapkan, takut jika tidak kesampaian maka akan kecewa berlarut duka.

Sesuai SE-15 Direktur Jenderal Perbendaharaan  (masih belum tahu apa nama lengkapnya), menyebutkan bahwa kondisiku, hanya boleh mengikuti suami dua kali. Dan sekarang ini, aku masih dalam posisi ikut suami nol kali. Ya, pertama kali penempatan kemarin aku masih mendapatkan uang pindah, belum dianggap ikut suami. Dengan regulasi mutasi tempat kerja kami yang tersebar ke seluruh nusantara, dan pola mutasi tertentu, sedari dini kami harus sudah mempersiapkan mental ketika beberapa waktu nanti kami akan beda kota, bahkan provinsi, atau pulau....duh Gusti..ini sudah menjadi cerita klasik lulusan STAN.

Beberapa waktu ke depan, kami akan berbalik tempat. Suamiku di Jakarta, dan kini aku di Solok. Entah untuk waktu yang singkat atau yang panjang, hanya Allah yang tahu. Sebetulnya, keinginan untuk mengikuti Ujian Saringan Masuk kemarin, kami memiliki motivasi masing-masing, mulai dari motivasi pribadi hingga motivasi kebermanfaatan untuk sesama. Kami berdua, berusaha bersama dalam waktu yang singkat dan kesibukan masing-masing. Hanya saja, yang paling parah adalah kesibukan di kantorku, ketika dua rekanku sedang cuti bersalin dan dinas luar berkali-kali. Ketika itu, seolah kantor menjadi ribet sekali, semua hal terkait aplikasi dan pelayanan tertuju kepadaku. Apalagi, aku belumlah mahir sekali tentang bidang tugasku. Masih newbie banget. Alhasil, bahkan pengajuan berkas-berkas syarat administratif sudah hampir di ujung tanduk. Apalagi belajar???

Malam hari sudah letih dengan pekerjaan full sehari, plus mengurus Hana, dan sepertinya manusia biasa ini belum diamanahi D4 STAN. Seolah begitu banyak sebab yang menjadikan tidak diterima. Dan ujungnya, tentu saja kehendak Allah. Nyali ini juga masih ciut, merasa diri ini tidak mampu. Bahkan, ketika selesai tes, aku masih belajar. Bagaimana dengan suamiku? mana mungkin beliau belajar lagi. Itulah gayanya. Lalu aku bilang, "Aku mau siap-siap, kalau tahun ini ndak keterima, tahun depan InsyaAllah lebih semangat untuk tidak melewatkannya." dan suamiku menjawab, seperti biasa, diawali senyum khasnya, "Aku tidak perlu belajar lagi, mau menunggu keputusan Allah dulu". Masya Allah, seolah aku memang terburu-buru menetapkan apa yang belum ditetapkan atas diriku sendiri. Atau aku hanya terlalu bersemangat? Namun apalah artinya itu, akhirnya aku tidak masuk dalam daftar mahasiswa D4 tahun 2013/2014.

Soal Tes Kemampuan Umum hanya bisa kujawab 48 soal. Tes bahasa Inggris lumayan, hanya beberapa yang kosong. Tes kepribadian kujawab sebisaku sesuai petunjuk yang pernah aku dapatkan. Aku tidak ingin banyak salah, jadi kujawab saja mana yang aku merasa yakin. Tapi, sungguh membuat kaget ketika aku membaca nama suamiku.

Berawal dari obrolan di sebuah forum, bahwa hari itu akan ada pengumuman USM D4, aku mencoba mencari-cari link-nya. Kebetulan sekali suamiku baru pulang dari Sawahlunto dalam rangka perjalanan dinas. Beliau pulang dengan biasa saja, seperti biasa, tersenyum, bercanda dengan Raihana sambil genti baju.

Aku ribut sendiri, "Abi, katanya hari ini pengumuman"
"Oiya.." kata suamiku datar.
"Iya bi, tapi ada password-nya, belum nemu nih password-nya."
"Coba tanya temen" jawab abi.
"Oh iya password-nya ULFA" kataku
Pelan-pelan kulihat nama demi nama, satu per satu nama teman yang kukenal muncul. Wah ini keterima bi, itu juga keterima," ocehku.
"Trus, umi keterima ndak" jawab suamiku
"ndak ada namaku, "
"coba bukain lampiran II, ada namaku ndak" kata abi.
Kulihatlah nama satu per satu, eh Henry Ariyanto keterima bi, dan.....hiks, kok ada nama abi...." suara ku pecah. Pas di bawah nama salah seorang teman angkatanku saat di kampus, yang penuh semangat dan usianya dua tahun di bawahku, Henry Ariyanto.

Setelah itu, suamiku tersenyum lebih lebar, dan aku mendapat indikasi bahwa beliau sudah mengetahuinya terlebih dahulu, namun sengaja bersikap begitu. Karena begitulah beliau. Aku langsung memeluknya, antara terharu dan bersedih. Karena ini adalah suatu awal bahwa kami harus berbeda lokasi selama beberapa waktu. Aku bersama Raihana tanpa sanak famili di sini, tapi alhamdulillah sekali saudara seiman dan tetangga-tetangga yang care tetaplah ada di sekelilingku. Tempat yang indah seperti foto di atas masih saja tidak beranjak dari tempatnya. Aku bisa menikmati panorama indah dan ukhuwah  kapan saja.

Akhirnya, inilah jawaban sementara dari tulisan sebelumnya berjudul Probabilitas, Tawakkal, dan Harapan. Banyak yang mendoakan aku agar bisa menyusul suami tahun depan. Alhamdulillah, dan tentu saja, harapan itu masih merekah. Berharap agar Allah mengabulkan doaku, agar aku bisa D4 tahun depan, menjadi adik kelas suamiku lagi seperti pas D3 dulu.

Sebenarnya, aku ingin menjadi teman seangkatannya karena sebenarnya begitulah seharusnya jika dilihat dari faktor usia. Jika itu tidak bisa, biarlah aku menjadi adik kelasnya lagi. Menuju kampus kami sekali lagi setelah merasa sangat asing dengannya beberapa waktu lalu.

Ya Allah memang aku berharap jika hanya salah satu dari kami yang diterima semoga itu adalah suamiku, dan semoga aku dimudahkan untuk mengikutinya lagi dalam penempatan.  Sungguh seperti inipun sudah sangat menyenangkan bagiku. Seperti inipun sudah sangat bersyukur. Berada di Solok yang indah, udara yang sejuk, dan kawan yang ramah. Tidak banyak intervensi dan masalah di sini. Layaknya sedang rekreasi dalam waktu yang lama. Namun tentu saja, suatu saat nanti, akan ada masa dimana aku harus lebih bertenaga dan lebih bersemangat.

Hanya satu, yang alhamdulillah sekarang pelan-pelan sudah teratasi, pekerjaan kantor, SDM kantor yang kurang memberikan semangat berjuang. Aku masih saja merasa sendiri. Kadang emosi tidak jelas, padahal aku seorang customer service. Astaghfirullah. Meskipun tidak terlihat jelas, meskipun hanya diam, namun pasti raut wajah tidak bisa bohong. Aku belum bisa memberikan wajah senantiasa tersenyum dalam kondisi apapun. Rupanya menjadi pelayan  tidak semudah kata-kata. Pelayan satker, pelayan keluarga, Ya Allah berilah aku petunjuk-Mu yang terang.

Dan, para pembaca, mohon doakan aku agar bisa menyusul suamiku untuk menjadi mahasiswi D4 STAN tahun depan. I'll be the next STANer insyaAllah. karena jalan itu yang masih aku yakini bisa menyusul suamiku. Di instansiku ini seolah ikut suami tidaklah segratis pasangan yang sesama Dirjen Perbendaharaan. Seolah, aku merasa, ikut D4 adalah salah satu kesempatan untuk meraihnya. Mohon maafkan setiap kesalahan yang pernah saya buat. Siapapun yang membacanya, mohon jika ada yang tidak berkenaan dengan saya tolong hapus itu, semoga Allah memberikan kebaikan pada Anda. Mohon doakan saya bisa menyusul suami di kampus Ali Wardhana dan mendapat IP yang jauh lebih baik dari saat D3 dulu. Semoga ini adalah jalan keberkahan kami, dan jalan terbaik kami. Dan hanya Allah yang paling tahu jalan mana yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Bersama-Nya, meskipun kau rasa tidak ada yang mudah, namun yakinlah, jangan pikirkan itu tidak mungkin.

Kamis, 12 September 2013

Ketika kau Sedang Kecewa

Kenapa sekarang aku masih menulis adalah karena sebentuk motivasi dalam sanubari. Beberapa waktu ini, muncul semacam kesadaran bahwa aku belajar dari tulisanku. Apa yang aku tulis dan kemudian aku ingat seolah memberikan petunjuk akan daya pikirku saat itu. Seberapa yang aku tulis sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya beberapa saja mengingat aku baru memulainya semenjak kuliah dan usai lulus, aku merasa sedikit ada waktu untuk melakukannya lagi.

Kini, kesadaran itu muncul bahwa aku telah menulis dengan nilai yang indah, penuh kesantunan dan norma yang apik serta berlatar belakang ideologi yang aku anut. Ketika aku merasa bodoh karena hampir jarang sekali waktu untuk membaca dan menuliskannya kembali. Sebentuk rasa rindu menggantung untuk ingin memulainya lagi dan semoga ini menciptakan nilai manfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Dalam tulisan ini aku belum dapat memberikan motivasi penuh dan utuh untuk memulai menulis, akupun masih dalam taraf memotivasi diri sendiri karena manfaat yang aku rasa bisa aku petik, meskipun baru sedikit. Dengan bertambahnya tulisan-tulisanku, aku yakin akan makin banyak manfaat itu mengalir.

Namun, satu hal yang aku ingat mengapa aku mengawalinya dengan menulis, adalah sebuah alasan sederhana untuk menghibur diri ketika sedang merasakan melankolik dari suatu kekecewaan. Kekecewaan yang sebenarnya aku menyadarinya sebagai bagian dari kehidupan, dan tentu saja masih banyak orang lain yang menghadapi kekecewaan jauh lebih besar daripada kekecewaanku ini.

Kekecewaan, apapun sebabnya membuat orang menjadi malas untuk tersenyum, namun itu patut untuk diusahakan. Rasa mendung di hati ini akhirnya akan menggerakkan jiwa ke arah potensialnya. Jika hati laksana cuaca, maka jiwa ini laksana iklim. Aku berharap sebagaimanapun cuacanya, iklim yang baik tetap saja tidak akan menjadikan penduduk bumi menderita. Jika iklimnya bersahabat, tidak da efek rumah kaca atau polusi permanen yang menyertainya, maka bumi insyaAllah akan sehat-sehat saja. Itulah yang aku inginkan dari sebentuk jiwa ini.

Jiwa ini harus tetaplah mengalir sebagai ombak yang bersemangat meraih tepian pantai. Dengan gemuruhnya yang menentramkan, ombak ini tetaplah harus mengantarkan botol berisi kertas harapan yang akan disampaikan kepada pemiliknya. Agar ombak ini senantiasa dinanti oleh pemilik kertas harapan itu.

Maka daripadanya, jiwa ini ingin kembali membangun jatidiri dengan lebih melapangkan jangkauannya agar sedikit penghambat lajunya terasa sangatlah kecil, dan makin kecil. Dan dengan ridlo Allah, ombak itu akan mendapatkan kemudahan yang jauh lebih besar dari rintangan yang dihadapinya. Semoga saja, harapan itu masih ada, dan menyerahkan sepenuh jiwa kepada pemilik jiwa adalah langkah terbaik untuk mendapatkan solusi terbaik. Bangkitlah wahai jiwa, ini hanyalah rintangan yang sangat kecil, jangan putus asa karena bisa jadi rintangan-rintangan lain yang akan membersamai langkahmu akan segera meyongsongmu.

DAN, PUKULAN YANG TIDAK EMMBUATMU MATI AKAN MAKIN MENGUATKANMU!!!!

Kamis, 31 Januari 2013

15 Tips Agar Muslimah Enjoy di Tempat Kerja

Kebutuhan kreativitas, sosialisasi dan pemenuhan materi menjadi alasan kenapa perempuan memilih bekerja diluar rumah. Mungkin banyak opsi lain agar muslimah tetap kreatif dan mampu bersosialisasi selain bekerja diluar rumah. Tetapi jika mencukupi kebutuhan keluarga adalah alasan utama seorang muslimah bekerja, maka hal yang patut disyukuri ketika mereka masih diberi kesempatan untuk bekerja dan berprestasi.
Kini bukan hal yang langka muslimah bekerja di luar rumah. Baik berwirausaha atau menjadi karyawan. Namun sayangnya tidak semua muslimah menikmati perannya sebagai pekerja. Biasanya ketidaknyaman dalam bekerja dikarenakan beberapa hal, misalnya tekanan dari luar, gaji yang tidak sesuai dengan loyalitas, kejenuhan, atau pimpinan dan teman kerja yang kurang kooperatif.

Berikut beberapa tips yang dapat menambah wacana Anda, agar lebih enjoy di tempat kerja:
  1. Saatnya menetapkan visi, misi dan tujuan Anda dalam bekerja. Hal ini mendasari niat anda ketika memilih untuk memutuskan bekerja.
  2. Jangan merasa tidak puas dengan perusahaan, lalu dengan mudah mengumbar aib perusahaan ke orang lain atau membahasnya dengan rekan kerja. Percayalah ini tidak ada untungnya. Yang ada hanya akan menambah dosa. Segera carilah solusi. Komunikasikan masalah Anda dengan pihak yang mempunyai wewenang terhadap masalah Anda.
  3. Speak Up! Jika ada ide, sampaikan di forum yang tepat. Mungkin ide Anda bisa dipakai untuk memajukan perusahaan.
  4. Jika Anda seorang owner perusahaan, maka dengarkan keluhan karyawan. Karena mereka tonggak perusahaan anda. Jika tidak ada mereka, aktivitas perusahaan Anda tidak berjalan lancar.
  5. Buat target kebaikan yang akan menambah kreativitas Anda. Hal ini akan menjadi value added bagi diri Anda.
  6. Bersahabatlah dengan rekan kerja. Persahabatan akan menambah banyak manfaatnya. Coffee time after office hour, juga bisa dijadikan waktu untuk membuat pengajian kecil, sekalian me-refresh qolbu dan mempererat silaturrahim.
  7. Hindari ngerumpi, dan jangan bergosip. Jaga lisan.
  8. Jika ada masalah dengan rekan kerja, segera selesaikan. Membahas langsung dengan yang bersangkutan, akan memudahkan masalah terselesaikan. Atau jika membutuhkan pihak ketiga, carilah pihak yang bijak. Karena kita tetap butuh nasehat dari orang lain.
  9. Make over meja kerja. Rapikan file-file di meja kerja, serta bersihkan isi laci. Letakkan kalender lucu dan tempelkan potongan terjemahan ayat Al Quran jadikan sebagai quote penyemangat. Jangan lupa hiasi dengan warna-warna yang eye catching.
  10. Fashionable. Muslimah harus keren, namun tetap sesuai syariah. Memadupadankan busana, juga membuat nyaman dalam bekerja.
  11. Biasakan memberi hadiah kecil kepada teman kerja, misalnya sepotong coklat. Melihat orang lain tersenyum dapat menutrisi hati untuk lebih bahagia ditempat kerja.
  12. Memberi kado untuk diri sendiri setelah target kebaikan Anda di tempat kerja tercapai.
  13. Be Positive Thinker. Hindari berburuk sangka pada keadaan atau seseorang. Selain dilarang oleh Allah, berburuk sangka akan membuat hati terasa capek dan pikiran semakin sempit. Masalah yang kita hadapi juga semakin rumit. Maka sebaiknya tetap ber khusnudzan, bahwa selalu ada jalan keluar di kesulitan yang kita hadapi dan ada hikmah yang dapat kita ambil di setiap kejadian. So, stop buruk sangka ya.
  14. Pasang alarm waktu shalat. Shalat adalah rehat terbaik di sela-sela kesibukan. Terbasuh air wudhu, bertemu kembali dengan sajadah dan doa-doa kita, maka jiwa dan wajah akan kembali segar. Kebersihan mukena juga membuat kita bersemangat untuk beribadah. Pastikan Anda bekerja di tempat yang memberi waktu luang untuk shalat. Jika bos mulai menghitung waktu sholat anda, kompromikan atau pertimbangkan kembali keberadaan Anda disana.
  15. Hindari dan tinggalkan korupsi. Maka sebagai muslimah yang beriman dan warga negara yang baik, tanamkan pada diri untuk tidak menerima atau mengambil yang bukan hak kita. Mungkin bukan korupsi milyaran rupiah yang dilakukan anggota dewan kita, berbelanja alat kantor lalu terselip satu pinsil di tas kita saja itu sudah korupsi. Menjaga hal kecil namun berprinsip, itu akan menguatkan iman kita untuk tidak melakukan keburukan besar. Korupsi membuat hati tidak tenang. Jadi, yuk mulai budayakan bekerja jujur.
Tips diatas harus dibalut dengan Ikhlas, Sabar dan Senyum. Ikhlas ketika memulai kebaikan. Sabar ketika kebaikan mulai diapit banyak kesulitan. Senyum agar kebaikan terasa ringan untuk diistiqamahkan. Dan salah satu cara untuk menjaga kenyamanan hati dalam bekerja adalah jangan berharap penilaian dari manusia, karena manusia tak pernah adil dalam menilai. Berharaplah pada penilaian Allah yang Maha Teliti terhadap apa yang kita kerjakan. Karena segala ibadah kita tak sia-sia disisi Allah. (Fayza Sari, Fimadani 27 Januari 2013)