Rumah, adalah sebuah bangunan yang bukan hanya sebentuk dinding. Namun rumah menjadi pengikat jiwa yang membentuk kenangan-kenangan bagi penghuninya.
Bagi sebagian orang, rumah adalah sarana investasi, dan bagi sebagian yang lain, ia adalah sumber ketentraman ruhani. Rumah adalah sesuatu yang menimbulkan kehangatan, kekeluargaan, dan ketenangan. Menjadikan pemiliknya memiliki wilayah privat yang dapat merasakan me time.
Fungsi-fungsi rumah baik secara lahir ataupun batin bagi pemiliknya pernah dibahas dalam majalah tarbawi di edisi tempo dulu bingiitts . Dan dari sana, saya makin memahami mengapa saya sangat rindu dengan rumah orang tua yang masih berantakan sana sini-belum selesai direhab-di awal-awal perantauan saya. Kala itu, bahkan setelah menikah, ada rasa rindu yang dalam yang memacu kelenjar mata untuk mengeluarkan sekresinya. Rasa itu diperparah ketika suami meminta saya melahirkan di rumah mertua. Tapi alhamdulillah, kerinduan saya terhadap rumah orang tua terobati karena kemudian saya bisa melahirkan di kota kelahiran saya.
Kini, keluarga kecil kami sudah memiliki rumah sendiri. Rumah yang kami dapat dengan sangat mudahnya. Ya, bisa dikatakan sangat mudah dan cepat penyelesaiannya. Rumah itu adalah keinginan mertua saya, agar kami bermukim di Boyolali, lebih tepatnya di tanah kosong dekat rumah mertua meskipun, bisa dikatakan letaknya jauh dari pusat kota. Ialah sebuah dukuh kecil bernama Tariwetan, di Desa Sumber, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Kalau saya membandingkan dengan rumah orang tua saya, secara duniawi, rumah kami berada di sebuah dukuh terpencil yang akan menyulitkan mobilitas kami. Jalan yang berlubang, jauh dari terminal, bandara, ataupun stasiun, sedangkan kami belum memiliki mobil untuk mengatasinya.
Selama ini, kami mudik Boyolali_Pati hanya dengan sebuah sepeda motor Honda Mega Pro. Sungguh ngeri hati ini, dengan terpaksa ketika kami harus membawa anak kami berusia 1 tahun lebih dalam keadaan influenza saat mengendarai motor itu. Ya Allah, hancur sebenarnya hatiku, ketika apa yang aku rasa butuh, ternyata harus ditunda. Sedangkan yang belum kami butuhkan harus sudah kami penuhi.
Sebenarnya, mungkin aku belum sepenuhnya ikhlas dengan rumah baru kami. Memang sih, rumah itu dibangun hanya dengan biaya 130 juta Rupiah. 100 juta kami meminjam bank syariah, dan 30 juta adalah tabungan kami. Yang membuat design dan mengawasi pembangunannya adalah teman suami yang beliau seorang lulusan teknik sipil. Kami memilih desain yang paling sederhana dari beliau, namun lebih cukup luas dari desain rumah tipe 36. Rumah kami lumayan lebar dan tinggi. Material yang dipakaipun tidak asal. Teman kami memilihkan baja ringan (material ini baru booming menggantikan kayu kala itu), dan lantainya dari granit, bukan hanya keramik. Suasana desa kecil yang masih asripun dapat kami nikmati karena teman kami memberikan beranda di belakang rumah.
Kini, untuk rumah itu, kami harus mengangsur 2,7 jutaan sebulan selama 4 tahun. Cicilan itu bisa dikatakan sangat ringan ketika kami masih di Solok. Dengan penghasilan suami yang menjadi Account representative di kantor pajak dan saya sebagai pegawai KPPN yang diperbolehkan menghuni rumah dinas, bahkan kami bisa dibilang jor-joran dalam beramal harta dan menghutangkan ke saudara ataupun teman.
Namun, ketika suami sudah D4/tugas belajar dan kami harus tinggal di Jakarta, kebutuhan meningkat. Pengeluaran untuk menitipkan anak meningkat drastis, kontrakan rumah juga aduhai sekali. Ditambah, suami makin kecil penghasilannya selama tugas belajar. Di masa-masa seperti ini, kami menjadi agak hati-hati mengeluarkan uang. Sementara, piutang yang lama belum bisa ditagih. Ya Allah, mungkin aku memang belum mampu sabar dan Engkau menginginkan aku lebih sabar lagi.
Dengan kondisi kejiwaan terbelit kebutuhan, hati ini merasakan bolak balik iman. Ketika iman menurun, ada rasa tidak rela atas rumah itu. Ya, karena rumah itu serasa tidak mungkin akan bisa kami manfaatkan sekarang atau dengan kata lain minim manfaat bagi kehidupan keluarga kecil kami, namun angsuran atasnya tetap berjalan.. Bisa dibilang rumah itu hanya akan kami manfaatkan jika pensiun nanti. Dengan demikian, sangat jauh manfaatnya dari arti rumah yang sebenarnya bagiku. Rumah itu kami bangun hanyalah berdasarkan motivasi bahwa mertuaku sangat ingin kami di sana. Padahal, dengan kondisi kami sebagai pegawai Kemenkeu, kami lebih membutuhkan rumah yang berada di sekitar kantor, dan itu biasanya di pusat kota.
Kantor paling dekat dari rumah adalah Solo atau Klaten, karena di Boyolali tidak ada KPPN. Dan untuk ke Solo atau Klaten kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lebih sekali perjalanan. Itu jika kami ingin menempati rumah itu, Bagiku itu sangat tidak kondusif. Hampir sama dengan pola hidup di Jakarta. Jadi, mau tidak mau selama belum pensiun, kami harus berfikir membeli rumah lagi atau mengontrak.
Kini, rumah itu ditinggali mertua karena renovasi rumah mertua belum selesai. Dan saya masih belum punya ide mau diapakan rumah itu mengingat letaknya yang kurang strategis dan tidak mungkin dikontrakkan. Yang ada dalam benak saya sejak dulu adalah rumah sebagai investasi atau sebagai hunian. Tapi kini, Allah menjadikan rumah kami sebagai alasan untuk berbakti kepada orang tua.
Kenapa saya menulis ini? Saya berharap ada yang menasihati saya, karena kadang hati ini masih berbolak balik. Kami bisa dikatakan keluarga baru yang masih bertahap membangun keluarga. Bisa dikatakan, masih mulai dari nol dan dengan kondisi keluarga kami yang pas-pasan, orang tua tidak bisa membantu dalam hal finansial. Kemudian, ketika dalam kondisi yang demikian, kami diuji dengan pilihan membahagiakan orang tua atau menyejahterakan keluarga kecil kami. Maksudnya, saya sendiri merasa sedikit sekali mencukupi kebutuhan kami, terutama anak kami. Bisa dikatakan, peralatan seadanya dalam mengasuhnya. Kadang ada rasa gimana gitu kalau anak teman dibeliin ini itu, sedangkan anak sendiri tidak punya.
Saya teringat akan cerita2 berbakti kepada orang tua, bahkan mendahulukan orang tua daripada keluarganya. Ada juga cerita Said Al Ghamidi, seorang qori' yang menolak untuk menjadi Imam Masjid Nabawi agar tidak jauh dari ibunya. Bahwa begitulah akhlak mulia. Hati bisa merasakan bahwa demikian adalah baik, tentram di hati. Namun, sekali lagi, ketika ujian datang sendiri kepada kita, ternyata tidak serta merta kita langsung ikhlas beramal. Apa mungkin hati saya kotor dan hitam, sehingga ketika cobaan demikian datang saya masih belum rela meraih ridlo-Nya. Kali ini saya merasa dipaksa untuk berakhlak mulia, dan saya sedang mencobanya.
Ketika ada pikiran terjepit kala harga kontrakan setinggi langit, gaji seuprit, sedangkan kebutuhan hidup tinggi saya menemukan buku Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah. Buku itu sedikit membuka mata hati saya, dan semoga saya istiqomah dengan petuah Pak Salim dalam buku itu. Saya berharap semoga rumah saya mengundang berkah, meskipun nihil harga di mata duniawi manusia. Semoga saya merelakannya meskipun saya makin terjepit membayar cicilannya, saya berharap semoga bermanfaat dan menguntungkan meskipun berada di daerah terpencil yang demikian.
Di sisi lain, masyarakat dan orang tua kami merasakan manfaat rumah kami. Rumah kami pernah menjadi musholla sementara ketika mushola desa kami direnovasi, dan kini orang tua kami menempatinya karena renovasi rumahnya belum selesai. Itulah cobaannya, ketika saya merasa lebih baik memprioritaskan manfaat bagi kami dulu, Allah membuka ladang amal sebelum kami memiliki rumah yang sebenarnya bagi kami. Ada perasaan seolah apa yang ada pada kami bukanlah milik kami, justru orang lainlah yang menikmatinya. Padahal, sebenarnya saya merasa bahwa kami membutuhkannya. Begitu pula dengan motor Mega Pro suami. Motor itu sedang dipakai oleh ipar saya yang memang sedang membutuhkannya. Memberi ketika kami sendiri butuh, ternyata tidak mudah menciptakan kerelaan yang demikian.
Atau, semoga rumah itu justru mengundang rizki agar kami bisa memiliki rumah lain yang lebih strategis dan memudahkan akses kami sehari-hari. Jiwa ini masih kecut ketika ada rasa bahwa orang tua kami tidak mengerti kebutuhan kami dan seolah memaksakan pilihan kami. Ketika rasa bahwa orang tua suami yang dari desa terpencil sangat sederhana pemikirannya sehingga kurang paham jika kami menjelaskan dinamika pekerjaan kami. Ya Allah semoga Engkau mengistiqomahkan aku dalam kebaikan. Teguhkanlah hatiku dalam jalan taqwa dan teguhkanlah aku agar optimis akan nikmat-Mu Ya Allah.
Semoga aku senantiasa merasa bahwa tidak ada yang sia-sia, dan Allah tidak akan lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Semoa Dia meridloi-Nya. Mau menggantikan rumah itu dengan rumah di surga.
Dan penutup kisah ini, adalah nasihat dari suami: bisa jadi apa yang berat ini membuat Allah memudahkan kita dalam hal lain. Ketika ikut suami kala suami tugas belajar adalah hal yang tidak mudah, Allah memudahkan dan mempercepatnya terjadi. Dengan datangnya pak Dirjen kami, suatu hal yang tidak biasa pak Dirjen datang ke KPPN kecil. Maka, berawal dari situ, permohonan saya ikut suami ke Jakarta sangat mulus. Mungkin ini adalah salah satu wasilah atas ridlo orang tua yang berbuah Ridlo Allah. Dan, bisa jadi kesempatan berkali-kali dan mudah dalam meraih D4 belum saya dapatkan karena hati ini belum rela atas amal tentang rumah kami. Padahal aku sangat ingin kembali ke kampus. Semoga bisa D4 dalam waktu yang tidak lama lagi atau Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Alangkah baiknya bagiku sekarang untuk senantiasa optimis akan kemurahan dan pengabulan doa-Nya.
Rabu, 22 Oktober 2014
Kamis, 07 Agustus 2014
Ini Tentang Kita, Ruang, dan Waktu
Ini tentang kita
ruang
dan
waktu
Ketika jarak terbentang hingga melewati awan putih bermahkota
Hutan dan gunung tak lagi perlu dilewati
Kini, hanya berhadapan dengan awan dan laut di bawah sana
ditemani hijau tua daun daun rindang
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
satu yang selalu berada di sanubariku
bahwa Dia akan selalu memberikan yang kita butuhkan
yang membuat kita makin hebat
karena Dia tahu kita bukan siapa-siapa
Ini tentang kita...ruang....dan....waktu...
Tahukah kamu,
Bahwa antara kebersamaan dan ketidakbersamaan denganmu...
nada hatiku masih sama
senandung jiwaku masih juga tak pudar
Kita tidak lagi berbicara tentang kesedihan,
kewajiban masing-masing yang terelakkan
atau rasa yang menggebu yang berharap untuk bertemu
Kita sudah pelan-pelan lebih dewasa
Kita sudah mencoba merasakan kehadiran tanpa kasat mata
Ah, bukit di Aro Suka itu masih saja menyajikan senja yang menawan
Daun- daun pinusnya masih melatari perjalanan mentari menuju bumi
Laju kendaraan melewatinya menyeruakkan nuansa eloknya alam ranah Minang
Ah, sudahlah
Ini bukan lagi tentang aku mau ikut atau sayang meninggalkan kota ini
Ini bukan lagi tentang pengabdian kepada suami
Tapi oh tapi
seperti katamu,
biarkan berjalan dulu,
dan aku sudah berusaha sesuai maumu
Aku hanya tidak ingin terlalu menginginkannya
Aku hanya ingin Dia memberikan yang paling baik untuk kita
Toh, seperti kataku, jika adanya kamu, ada egoisme seorang istri
Jika tidak adanya kamu, aku bisa fokus menjadi ibu yang tangguh
ciye,..beneran gak sih...
Mungkin aku memang belum matang
Ini,..aku di sini..mau mematang segera
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
Yang membuat kita makin indah
makin mengerti
Tapi janji ya, terimalah aku apa adanya
meskipun aku tidaklah secantik OSD
atau semenawan gadis gadis timur tengah
sesuai dengan apa yang engkau suka
namun aku berhak meminta janjimu
pada 12 Februari 3 tahun silam
Tapi, dengan gurauanmu tentang gadis-gadis menawan itu...
aku malah makin merasa kamu mencintaiku.... (Geer nih)
Aku hanya berharap bidadari cemburu padaku
Amin...
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
Salam cinta
Solok, 08082014
10.59
ruang
dan
waktu
Ketika jarak terbentang hingga melewati awan putih bermahkota
Hutan dan gunung tak lagi perlu dilewati
Kini, hanya berhadapan dengan awan dan laut di bawah sana
ditemani hijau tua daun daun rindang
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
satu yang selalu berada di sanubariku
bahwa Dia akan selalu memberikan yang kita butuhkan
yang membuat kita makin hebat
karena Dia tahu kita bukan siapa-siapa
Ini tentang kita...ruang....dan....waktu...
Tahukah kamu,
Bahwa antara kebersamaan dan ketidakbersamaan denganmu...
nada hatiku masih sama
senandung jiwaku masih juga tak pudar
Kita tidak lagi berbicara tentang kesedihan,
kewajiban masing-masing yang terelakkan
atau rasa yang menggebu yang berharap untuk bertemu
Kita sudah pelan-pelan lebih dewasa
Kita sudah mencoba merasakan kehadiran tanpa kasat mata
Ah, bukit di Aro Suka itu masih saja menyajikan senja yang menawan
Daun- daun pinusnya masih melatari perjalanan mentari menuju bumi
Laju kendaraan melewatinya menyeruakkan nuansa eloknya alam ranah Minang
Ah, sudahlah
Ini bukan lagi tentang aku mau ikut atau sayang meninggalkan kota ini
Ini bukan lagi tentang pengabdian kepada suami
Tapi oh tapi
seperti katamu,
biarkan berjalan dulu,
dan aku sudah berusaha sesuai maumu
Aku hanya tidak ingin terlalu menginginkannya
Aku hanya ingin Dia memberikan yang paling baik untuk kita
Toh, seperti kataku, jika adanya kamu, ada egoisme seorang istri
Jika tidak adanya kamu, aku bisa fokus menjadi ibu yang tangguh
ciye,..beneran gak sih...
Mungkin aku memang belum matang
Ini,..aku di sini..mau mematang segera
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
Yang membuat kita makin indah
makin mengerti
Tapi janji ya, terimalah aku apa adanya
meskipun aku tidaklah secantik OSD
atau semenawan gadis gadis timur tengah
sesuai dengan apa yang engkau suka
namun aku berhak meminta janjimu
pada 12 Februari 3 tahun silam
Tapi, dengan gurauanmu tentang gadis-gadis menawan itu...
aku malah makin merasa kamu mencintaiku.... (Geer nih)
Aku hanya berharap bidadari cemburu padaku
Amin...
Ini tentang kita...
ruang....
dan....
waktu...
Salam cinta
Solok, 08082014
10.59
Minggu, 29 Desember 2013
Belajar Berdagang
Sepertinya blog ini adalah sarana curhat paling asyik. Namun, semoga ke depannya, pemikiran saya berkembang, sehingga curhat-curhat ini bisa dipetik manfaatnya atau nantinya blog ini bukan hanya sekedar curhat. :D. Inilah sesi curhat berikutnya.
Ini adalah pertama kalinya bagiku. Ya, baru pertama kalinya selera untuk berdagang ini kemudian muncul dalam benak ku. Sebelumnya saya belum pernah berniat berdagang. Merasa tidak berbakat, merasa sepertinya pekerjaan kantor sudah cukup menyita waktu, atau merasa tidak punya minat berdagang. Kemudian, hari demi hari dijalani sebagai seorang PNS Kementerian Keuangan yang bertugas di KPPN Solok, Sumatera Barat. Pelan-pelan, penat bekerja sedikit terasa. Penat itu kemungkinan berasal dari jiwa yang kurang jernih sehingga tidak peka dan pasif. Mendapat gaji bulanan yang terus menerus, seolah membuat pisau hati kurang peka akan konsep rizki. Ini tentu saja untuk aku pribadi. Sementara, aku juga tipe orang yang terlalu tidak suka banyak membeli barang, kecuali barang yang pokok saja, dan bukanlah barang pernak-pernik.
Hm.., baiklah, kini aku di Solok, dimana jiwa berbisnis, berwirausaha dan berdagang sangat besar. Meskipun, tak jarang aku melihat toko atau lapau yang baru buka, kemudian tutup lagi karena tidak laku. Banyak juga cerita-cerita kecurangan pedagang yang berimplikasi pada kesan secara umum.
Di kota inilah kemudian saya mendapatkan selera untuk berdagang. Niat saya sebenarnya hanyalah untuk lebih membesarkan jiwa, karena dengan berdagang, jiwa akan terasah untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang lain, membentuk jaringan, selain itu, jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, sabar adalah labanya. Sensasi mencoba dan mengetahui hasilnya kini ingin saya coba.
Dikaitkan dengan konsep rizki, berdagang membuat jiwa menjadi lebih peka dan bijak akan konsep rizki. Karena di dalamnya terdapat konsep ketidakpastian. Rizki pada dasarnya adalah balutan kepastian dalam bentuk ketidakpastian. Demikian saya bahasakan kembali konsep tersebut dari majalah Tarbawi. Majalah dwimingguan itu pernah membahas tentang konsep rizki para penjual keliling. Maka, pelan-pelan saya ingin menjajaki selera baru yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Ya Allah, tunjukilah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (QS. Al Kahfi:10).
Saya pribadi sangat menyukai konsep penulisan majalah Tarbawi tentang rizki yang diolah dengan pendekatan terhadap para penjual keliling yang tentu saja labanya tidak seberapa. Bahkan di sana dijelaskan ada pula penjual jasa perbaikan jam keliling. Padahal, di masa sekarang banyak jam tangan sama harganya dengan sebungkus nasi. Ironi memang. Juga, ketika dikatakan, seringkali kita merasa konsep rizki itu ilmiah jika yang mengungkapkannya adalah para praktisi yang sukses. Penulis di majalah tarbawi, menekankan kembali alur pemikirannya bahwa perlu juga kita tilik kembali konsep rizki itu dari para penjaja keliling yang hasilnya tidak seberapa, namun nilai-nilai kesyukuran dan keberkahan dirasakan dari mereka.
Itulah awal mula selera saya pelan-pelan berubah. Selera awal, kami jadi pembeli saja, namun atas dasar kasihan, kami membeli apa yang sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Dalam hal ini, suami saya yang selalu mengawalinya. Beliau kadang membawa gorengan, atau makanan lainnya saat pulang sambil bercerita tadi beli darimana. Beliau mencari pedagang yang sepi. Niatnya, infak terhadap penjualnya.
Suami saya bercerita pula tentang penjual martabak Mesir yang berjualan sepanjang malam. Ketika suami baru pulang dari ngaji sekitar pukul 1 malam, penjual martabak itu masih ada. Ia ditemani oleh istrinya yang sedang hamil muda. Sepertinya, pasutri itu baru menikah. Suami saya luluh dan kami beberapa kali membeli martabak darinya. Sang istri yang mengandung itu, setia menemani suaminya hingga larut malam untuk berjualan. Gerimis hati ini melihat keluarga itu.
Begitulah perputaran rizki yang Allah pergilirkan kepada makhluk-Nya. Rizki pada dasarnya adalah kepastian yang berbalut ketidakpastian. Pasti ada, pasti terjamin selama makhluk itu hidup. Namun, besarnya tidak pasti, dan cara mendapatkannya juga tergantung masing-masing makhluk. Maka, kembali pada jiwa ini, saya merasakan sedikit sekali syukur kepada Allah SWT atas semua ini.
Ya Allah, jadikan rizki kami rizki yang berkah dan janganlah kami tergolong pada orang-orang yang menumpuk emas dan perak karena ketamakan kami akan dunia. Dan jadikan rizki kami berada dalam perputaran yang Engkau ridloi. Engkaulah sebaik-baik pemberi rizki.
Keseimbangan jiwa juga ingin saya dapatkan ketika ada hak-hak saya yang belum terpenuhi sebagaimana mestinya sehingga semangat bekerja menjadi menurun. Misalnya, kenaikan grade yang seharusnya sudah saya dapatkan pada tahun 2013 ini. Selama saya bertanya pada teman-teman seangkatan, rupanya mereka sudah naik grade di tahun 2013 ini. Ada yang diurus di awal tahun, ada juga yang terlambat, namun akhirnya dirapel.
Di KPPN Solok, saya dan teman seangkatan saya belum mendapatkan kenaikan grade, dan beberapa pegawai tugas belajar juga kenaikannya tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Yang jelas, kami semua terlambat naik grade. Bukan karena kami bermasalah dalam kinerja, namun, sepertinya pihak yang berwenang dalam hal ini kurang memahami update peraturan yang ada. Kamipun lupa kroscek. Larut dalam kerja harian kami. Hingga kami sadar ketika bertemu dengan salah seorang teman dari KPPN lain ketika ada pelatihan di Jakarta. Nasi sudah menjadi bubur, tahun 2013 juga tinggal dua hari lagi. Sepertinya kenaikan grade kami tertunda 1 tahun tanpa rapel. Sungguh sebenarnya ini sangat mengecewakan kami, mengingat pegawai yang kurang berkontribusi di kantor justru dinaikkan grade-nya.
Saya merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil. Seolah, ketika banyak pekerjaan kami yang dijadikan tameng, tapi masalah hak, kami didiamkan karena tidak pernah protes. Mungkin ini menandakan jiwa ini belum berlapang dada. Menggantungkan rizki pada suatu sistem. Maka kecewalah saya. Ibu Kepala kantor sudah mengupayakan sampai kantor pusat tentang hak kami yang tertunda ini, namun apalah daya, sampai sekarang entah tersangkut dimana, kami belum mendapatkan kabar gembira.
Maka dari itulah, jiwa ini perlu pembaharuan, perlu dilahirkan kembali agar lebih bijaksana dalam menghadapi apa yang ada hingga kemudian saya menemukan selera baru untuk menata hati dengan berdagang. Dengannya, saya mungkin akan merasakan sensasi ketidakpastian rizki. Berbeda dengan sebelumnya dimana setiap bulan mendapatkan suntikan penghasilan PNS.
Keasyikan berdagang entah akan saya rasakan seterusnya atau tidak saya tidak tahu, ini barulah langkah coba-coba yang saya rasa cocok untuk situasi jiwa saya sekarang. Plus, dulu pernah berfikir sayang sekali kalau saat pindah dari Sumatera Barat nanti saya tidak bisa bahasa Minang dan Berdagang. Maka, saya pikir saatnya menjadikan pola mutasi kementerian keuangan adalah sesuatu yang menyenangkan dengan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Semoga setiap langkah membawa keberkahannya masing-masing.
Percobaan pertama saya dalam berdagang adalah: bantal donat dan sedang berniat memasarkan produk mainan edukatif anak.
Ini adalah pertama kalinya bagiku. Ya, baru pertama kalinya selera untuk berdagang ini kemudian muncul dalam benak ku. Sebelumnya saya belum pernah berniat berdagang. Merasa tidak berbakat, merasa sepertinya pekerjaan kantor sudah cukup menyita waktu, atau merasa tidak punya minat berdagang. Kemudian, hari demi hari dijalani sebagai seorang PNS Kementerian Keuangan yang bertugas di KPPN Solok, Sumatera Barat. Pelan-pelan, penat bekerja sedikit terasa. Penat itu kemungkinan berasal dari jiwa yang kurang jernih sehingga tidak peka dan pasif. Mendapat gaji bulanan yang terus menerus, seolah membuat pisau hati kurang peka akan konsep rizki. Ini tentu saja untuk aku pribadi. Sementara, aku juga tipe orang yang terlalu tidak suka banyak membeli barang, kecuali barang yang pokok saja, dan bukanlah barang pernak-pernik.
Hm.., baiklah, kini aku di Solok, dimana jiwa berbisnis, berwirausaha dan berdagang sangat besar. Meskipun, tak jarang aku melihat toko atau lapau yang baru buka, kemudian tutup lagi karena tidak laku. Banyak juga cerita-cerita kecurangan pedagang yang berimplikasi pada kesan secara umum.
Di kota inilah kemudian saya mendapatkan selera untuk berdagang. Niat saya sebenarnya hanyalah untuk lebih membesarkan jiwa, karena dengan berdagang, jiwa akan terasah untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang lain, membentuk jaringan, selain itu, jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, sabar adalah labanya. Sensasi mencoba dan mengetahui hasilnya kini ingin saya coba.
Dikaitkan dengan konsep rizki, berdagang membuat jiwa menjadi lebih peka dan bijak akan konsep rizki. Karena di dalamnya terdapat konsep ketidakpastian. Rizki pada dasarnya adalah balutan kepastian dalam bentuk ketidakpastian. Demikian saya bahasakan kembali konsep tersebut dari majalah Tarbawi. Majalah dwimingguan itu pernah membahas tentang konsep rizki para penjual keliling. Maka, pelan-pelan saya ingin menjajaki selera baru yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Ya Allah, tunjukilah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (QS. Al Kahfi:10).
Saya pribadi sangat menyukai konsep penulisan majalah Tarbawi tentang rizki yang diolah dengan pendekatan terhadap para penjual keliling yang tentu saja labanya tidak seberapa. Bahkan di sana dijelaskan ada pula penjual jasa perbaikan jam keliling. Padahal, di masa sekarang banyak jam tangan sama harganya dengan sebungkus nasi. Ironi memang. Juga, ketika dikatakan, seringkali kita merasa konsep rizki itu ilmiah jika yang mengungkapkannya adalah para praktisi yang sukses. Penulis di majalah tarbawi, menekankan kembali alur pemikirannya bahwa perlu juga kita tilik kembali konsep rizki itu dari para penjaja keliling yang hasilnya tidak seberapa, namun nilai-nilai kesyukuran dan keberkahan dirasakan dari mereka.
Itulah awal mula selera saya pelan-pelan berubah. Selera awal, kami jadi pembeli saja, namun atas dasar kasihan, kami membeli apa yang sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Dalam hal ini, suami saya yang selalu mengawalinya. Beliau kadang membawa gorengan, atau makanan lainnya saat pulang sambil bercerita tadi beli darimana. Beliau mencari pedagang yang sepi. Niatnya, infak terhadap penjualnya.
Suami saya bercerita pula tentang penjual martabak Mesir yang berjualan sepanjang malam. Ketika suami baru pulang dari ngaji sekitar pukul 1 malam, penjual martabak itu masih ada. Ia ditemani oleh istrinya yang sedang hamil muda. Sepertinya, pasutri itu baru menikah. Suami saya luluh dan kami beberapa kali membeli martabak darinya. Sang istri yang mengandung itu, setia menemani suaminya hingga larut malam untuk berjualan. Gerimis hati ini melihat keluarga itu.
Begitulah perputaran rizki yang Allah pergilirkan kepada makhluk-Nya. Rizki pada dasarnya adalah kepastian yang berbalut ketidakpastian. Pasti ada, pasti terjamin selama makhluk itu hidup. Namun, besarnya tidak pasti, dan cara mendapatkannya juga tergantung masing-masing makhluk. Maka, kembali pada jiwa ini, saya merasakan sedikit sekali syukur kepada Allah SWT atas semua ini.
Ya Allah, jadikan rizki kami rizki yang berkah dan janganlah kami tergolong pada orang-orang yang menumpuk emas dan perak karena ketamakan kami akan dunia. Dan jadikan rizki kami berada dalam perputaran yang Engkau ridloi. Engkaulah sebaik-baik pemberi rizki.
Keseimbangan jiwa juga ingin saya dapatkan ketika ada hak-hak saya yang belum terpenuhi sebagaimana mestinya sehingga semangat bekerja menjadi menurun. Misalnya, kenaikan grade yang seharusnya sudah saya dapatkan pada tahun 2013 ini. Selama saya bertanya pada teman-teman seangkatan, rupanya mereka sudah naik grade di tahun 2013 ini. Ada yang diurus di awal tahun, ada juga yang terlambat, namun akhirnya dirapel.
Di KPPN Solok, saya dan teman seangkatan saya belum mendapatkan kenaikan grade, dan beberapa pegawai tugas belajar juga kenaikannya tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Yang jelas, kami semua terlambat naik grade. Bukan karena kami bermasalah dalam kinerja, namun, sepertinya pihak yang berwenang dalam hal ini kurang memahami update peraturan yang ada. Kamipun lupa kroscek. Larut dalam kerja harian kami. Hingga kami sadar ketika bertemu dengan salah seorang teman dari KPPN lain ketika ada pelatihan di Jakarta. Nasi sudah menjadi bubur, tahun 2013 juga tinggal dua hari lagi. Sepertinya kenaikan grade kami tertunda 1 tahun tanpa rapel. Sungguh sebenarnya ini sangat mengecewakan kami, mengingat pegawai yang kurang berkontribusi di kantor justru dinaikkan grade-nya.
Saya merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil. Seolah, ketika banyak pekerjaan kami yang dijadikan tameng, tapi masalah hak, kami didiamkan karena tidak pernah protes. Mungkin ini menandakan jiwa ini belum berlapang dada. Menggantungkan rizki pada suatu sistem. Maka kecewalah saya. Ibu Kepala kantor sudah mengupayakan sampai kantor pusat tentang hak kami yang tertunda ini, namun apalah daya, sampai sekarang entah tersangkut dimana, kami belum mendapatkan kabar gembira.
Maka dari itulah, jiwa ini perlu pembaharuan, perlu dilahirkan kembali agar lebih bijaksana dalam menghadapi apa yang ada hingga kemudian saya menemukan selera baru untuk menata hati dengan berdagang. Dengannya, saya mungkin akan merasakan sensasi ketidakpastian rizki. Berbeda dengan sebelumnya dimana setiap bulan mendapatkan suntikan penghasilan PNS.
Keasyikan berdagang entah akan saya rasakan seterusnya atau tidak saya tidak tahu, ini barulah langkah coba-coba yang saya rasa cocok untuk situasi jiwa saya sekarang. Plus, dulu pernah berfikir sayang sekali kalau saat pindah dari Sumatera Barat nanti saya tidak bisa bahasa Minang dan Berdagang. Maka, saya pikir saatnya menjadikan pola mutasi kementerian keuangan adalah sesuatu yang menyenangkan dengan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Semoga setiap langkah membawa keberkahannya masing-masing.
Percobaan pertama saya dalam berdagang adalah: bantal donat dan sedang berniat memasarkan produk mainan edukatif anak.
Kamis, 19 Desember 2013
Jakarta-Solok Hingga Kini
|
|
| Aripan, Solok (foto: Aries Munandar, KPPN Solok) |
Masa awal pernikahan kami, Abu Raihana bolak balik Jakarta-Solok setiap tiga minggu sekali, naik motor Solok-Padang dan melanjutkan dengan armada udara sampai Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Seringkali, beliau baru tiba di kosku hampir larut malam. Ketika aku sudah sangat letih, mencoba membuka mata namun tetap saja kemudian terlelap di atas kasur. Hingga handphone berbunyi yang rupanya adalah dari beliau yang menunggu di depan gerbang.
Jika sudah melihat beliau, hati ini tenang sekali rasanya. Alhamdulillah beliau sampai dengan selamat. Dan kemudian, Allah sangat memudahkan kami untuk bertemu dalam satu rumah di Solok ini. Dengan sangat mudahnya, setelah cemas berkepanjangan bahwa mengikuti beliau ke Solok adalah sesuatu yang jangan terlalu diharapkan, takut jika tidak kesampaian maka akan kecewa berlarut duka.
Sesuai SE-15 Direktur Jenderal Perbendaharaan (masih belum tahu apa nama lengkapnya), menyebutkan bahwa kondisiku, hanya boleh mengikuti suami dua kali. Dan sekarang ini, aku masih dalam posisi ikut suami nol kali. Ya, pertama kali penempatan kemarin aku masih mendapatkan uang pindah, belum dianggap ikut suami. Dengan regulasi mutasi tempat kerja kami yang tersebar ke seluruh nusantara, dan pola mutasi tertentu, sedari dini kami harus sudah mempersiapkan mental ketika beberapa waktu nanti kami akan beda kota, bahkan provinsi, atau pulau....duh Gusti..ini sudah menjadi cerita klasik lulusan STAN.
Beberapa waktu ke depan, kami akan berbalik tempat. Suamiku di Jakarta, dan kini aku di Solok. Entah untuk waktu yang singkat atau yang panjang, hanya Allah yang tahu. Sebetulnya, keinginan untuk mengikuti Ujian Saringan Masuk kemarin, kami memiliki motivasi masing-masing, mulai dari motivasi pribadi hingga motivasi kebermanfaatan untuk sesama. Kami berdua, berusaha bersama dalam waktu yang singkat dan kesibukan masing-masing. Hanya saja, yang paling parah adalah kesibukan di kantorku, ketika dua rekanku sedang cuti bersalin dan dinas luar berkali-kali. Ketika itu, seolah kantor menjadi ribet sekali, semua hal terkait aplikasi dan pelayanan tertuju kepadaku. Apalagi, aku belumlah mahir sekali tentang bidang tugasku. Masih newbie banget. Alhasil, bahkan pengajuan berkas-berkas syarat administratif sudah hampir di ujung tanduk. Apalagi belajar???
Malam hari sudah letih dengan pekerjaan full sehari, plus mengurus Hana, dan sepertinya manusia biasa ini belum diamanahi D4 STAN. Seolah begitu banyak sebab yang menjadikan tidak diterima. Dan ujungnya, tentu saja kehendak Allah. Nyali ini juga masih ciut, merasa diri ini tidak mampu. Bahkan, ketika selesai tes, aku masih belajar. Bagaimana dengan suamiku? mana mungkin beliau belajar lagi. Itulah gayanya. Lalu aku bilang, "Aku mau siap-siap, kalau tahun ini ndak keterima, tahun depan InsyaAllah lebih semangat untuk tidak melewatkannya." dan suamiku menjawab, seperti biasa, diawali senyum khasnya, "Aku tidak perlu belajar lagi, mau menunggu keputusan Allah dulu". Masya Allah, seolah aku memang terburu-buru menetapkan apa yang belum ditetapkan atas diriku sendiri. Atau aku hanya terlalu bersemangat? Namun apalah artinya itu, akhirnya aku tidak masuk dalam daftar mahasiswa D4 tahun 2013/2014.
Soal Tes Kemampuan Umum hanya bisa kujawab 48 soal. Tes bahasa Inggris lumayan, hanya beberapa yang kosong. Tes kepribadian kujawab sebisaku sesuai petunjuk yang pernah aku dapatkan. Aku tidak ingin banyak salah, jadi kujawab saja mana yang aku merasa yakin. Tapi, sungguh membuat kaget ketika aku membaca nama suamiku.
Berawal dari obrolan di sebuah forum, bahwa hari itu akan ada pengumuman USM D4, aku mencoba mencari-cari link-nya. Kebetulan sekali suamiku baru pulang dari Sawahlunto dalam rangka perjalanan dinas. Beliau pulang dengan biasa saja, seperti biasa, tersenyum, bercanda dengan Raihana sambil genti baju.
Aku ribut sendiri, "Abi, katanya hari ini pengumuman"
"Oiya.." kata suamiku datar.
"Iya bi, tapi ada password-nya, belum nemu nih password-nya."
"Coba tanya temen" jawab abi.
"Oh iya password-nya ULFA" kataku
Pelan-pelan kulihat nama demi nama, satu per satu nama teman yang kukenal muncul. Wah ini keterima bi, itu juga keterima," ocehku.
"Trus, umi keterima ndak" jawab suamiku
"ndak ada namaku, "
"coba bukain lampiran II, ada namaku ndak" kata abi.
Kulihatlah nama satu per satu, eh Henry Ariyanto keterima bi, dan.....hiks, kok ada nama abi...." suara ku pecah. Pas di bawah nama salah seorang teman angkatanku saat di kampus, yang penuh semangat dan usianya dua tahun di bawahku, Henry Ariyanto.
Setelah itu, suamiku tersenyum lebih lebar, dan aku mendapat indikasi bahwa beliau sudah mengetahuinya terlebih dahulu, namun sengaja bersikap begitu. Karena begitulah beliau. Aku langsung memeluknya, antara terharu dan bersedih. Karena ini adalah suatu awal bahwa kami harus berbeda lokasi selama beberapa waktu. Aku bersama Raihana tanpa sanak famili di sini, tapi alhamdulillah sekali saudara seiman dan tetangga-tetangga yang care tetaplah ada di sekelilingku. Tempat yang indah seperti foto di atas masih saja tidak beranjak dari tempatnya. Aku bisa menikmati panorama indah dan ukhuwah kapan saja.
Akhirnya, inilah jawaban sementara dari tulisan sebelumnya berjudul Probabilitas, Tawakkal, dan Harapan. Banyak yang mendoakan aku agar bisa menyusul suami tahun depan. Alhamdulillah, dan tentu saja, harapan itu masih merekah. Berharap agar Allah mengabulkan doaku, agar aku bisa D4 tahun depan, menjadi adik kelas suamiku lagi seperti pas D3 dulu.
Sebenarnya, aku ingin menjadi teman seangkatannya karena sebenarnya begitulah seharusnya jika dilihat dari faktor usia. Jika itu tidak bisa, biarlah aku menjadi adik kelasnya lagi. Menuju kampus kami sekali lagi setelah merasa sangat asing dengannya beberapa waktu lalu.
Ya Allah memang aku berharap jika hanya salah satu dari kami yang diterima semoga itu adalah suamiku, dan semoga aku dimudahkan untuk mengikutinya lagi dalam penempatan. Sungguh seperti inipun sudah sangat menyenangkan bagiku. Seperti inipun sudah sangat bersyukur. Berada di Solok yang indah, udara yang sejuk, dan kawan yang ramah. Tidak banyak intervensi dan masalah di sini. Layaknya sedang rekreasi dalam waktu yang lama. Namun tentu saja, suatu saat nanti, akan ada masa dimana aku harus lebih bertenaga dan lebih bersemangat.
Hanya satu, yang alhamdulillah sekarang pelan-pelan sudah teratasi, pekerjaan kantor, SDM kantor yang kurang memberikan semangat berjuang. Aku masih saja merasa sendiri. Kadang emosi tidak jelas, padahal aku seorang customer service. Astaghfirullah. Meskipun tidak terlihat jelas, meskipun hanya diam, namun pasti raut wajah tidak bisa bohong. Aku belum bisa memberikan wajah senantiasa tersenyum dalam kondisi apapun. Rupanya menjadi pelayan tidak semudah kata-kata. Pelayan satker, pelayan keluarga, Ya Allah berilah aku petunjuk-Mu yang terang.
Dan, para pembaca, mohon doakan aku agar bisa menyusul suamiku untuk menjadi mahasiswi D4 STAN tahun depan. I'll be the next STANer insyaAllah. karena jalan itu yang masih aku yakini bisa menyusul suamiku. Di instansiku ini seolah ikut suami tidaklah segratis pasangan yang sesama Dirjen Perbendaharaan. Seolah, aku merasa, ikut D4 adalah salah satu kesempatan untuk meraihnya. Mohon maafkan setiap kesalahan yang pernah saya buat. Siapapun yang membacanya, mohon jika ada yang tidak berkenaan dengan saya tolong hapus itu, semoga Allah memberikan kebaikan pada Anda. Mohon doakan saya bisa menyusul suami di kampus Ali Wardhana dan mendapat IP yang jauh lebih baik dari saat D3 dulu. Semoga ini adalah jalan keberkahan kami, dan jalan terbaik kami. Dan hanya Allah yang paling tahu jalan mana yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.
Bersama-Nya, meskipun kau rasa tidak ada yang mudah, namun yakinlah, jangan pikirkan itu tidak mungkin.
Kamis, 12 September 2013
Ketika kau Sedang Kecewa
Kenapa sekarang aku masih menulis adalah karena sebentuk motivasi dalam sanubari. Beberapa waktu ini, muncul semacam kesadaran bahwa aku belajar dari tulisanku. Apa yang aku tulis dan kemudian aku ingat seolah memberikan petunjuk akan daya pikirku saat itu. Seberapa yang aku tulis sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya beberapa saja mengingat aku baru memulainya semenjak kuliah dan usai lulus, aku merasa sedikit ada waktu untuk melakukannya lagi.
Kini, kesadaran itu muncul bahwa aku telah menulis dengan nilai yang indah, penuh kesantunan dan norma yang apik serta berlatar belakang ideologi yang aku anut. Ketika aku merasa bodoh karena hampir jarang sekali waktu untuk membaca dan menuliskannya kembali. Sebentuk rasa rindu menggantung untuk ingin memulainya lagi dan semoga ini menciptakan nilai manfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.
Dalam tulisan ini aku belum dapat memberikan motivasi penuh dan utuh untuk memulai menulis, akupun masih dalam taraf memotivasi diri sendiri karena manfaat yang aku rasa bisa aku petik, meskipun baru sedikit. Dengan bertambahnya tulisan-tulisanku, aku yakin akan makin banyak manfaat itu mengalir.
Namun, satu hal yang aku ingat mengapa aku mengawalinya dengan menulis, adalah sebuah alasan sederhana untuk menghibur diri ketika sedang merasakan melankolik dari suatu kekecewaan. Kekecewaan yang sebenarnya aku menyadarinya sebagai bagian dari kehidupan, dan tentu saja masih banyak orang lain yang menghadapi kekecewaan jauh lebih besar daripada kekecewaanku ini.
Kekecewaan, apapun sebabnya membuat orang menjadi malas untuk tersenyum, namun itu patut untuk diusahakan. Rasa mendung di hati ini akhirnya akan menggerakkan jiwa ke arah potensialnya. Jika hati laksana cuaca, maka jiwa ini laksana iklim. Aku berharap sebagaimanapun cuacanya, iklim yang baik tetap saja tidak akan menjadikan penduduk bumi menderita. Jika iklimnya bersahabat, tidak da efek rumah kaca atau polusi permanen yang menyertainya, maka bumi insyaAllah akan sehat-sehat saja. Itulah yang aku inginkan dari sebentuk jiwa ini.
Jiwa ini harus tetaplah mengalir sebagai ombak yang bersemangat meraih tepian pantai. Dengan gemuruhnya yang menentramkan, ombak ini tetaplah harus mengantarkan botol berisi kertas harapan yang akan disampaikan kepada pemiliknya. Agar ombak ini senantiasa dinanti oleh pemilik kertas harapan itu.
Maka daripadanya, jiwa ini ingin kembali membangun jatidiri dengan lebih melapangkan jangkauannya agar sedikit penghambat lajunya terasa sangatlah kecil, dan makin kecil. Dan dengan ridlo Allah, ombak itu akan mendapatkan kemudahan yang jauh lebih besar dari rintangan yang dihadapinya. Semoga saja, harapan itu masih ada, dan menyerahkan sepenuh jiwa kepada pemilik jiwa adalah langkah terbaik untuk mendapatkan solusi terbaik. Bangkitlah wahai jiwa, ini hanyalah rintangan yang sangat kecil, jangan putus asa karena bisa jadi rintangan-rintangan lain yang akan membersamai langkahmu akan segera meyongsongmu.
DAN, PUKULAN YANG TIDAK EMMBUATMU MATI AKAN MAKIN MENGUATKANMU!!!!
Kini, kesadaran itu muncul bahwa aku telah menulis dengan nilai yang indah, penuh kesantunan dan norma yang apik serta berlatar belakang ideologi yang aku anut. Ketika aku merasa bodoh karena hampir jarang sekali waktu untuk membaca dan menuliskannya kembali. Sebentuk rasa rindu menggantung untuk ingin memulainya lagi dan semoga ini menciptakan nilai manfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.
Dalam tulisan ini aku belum dapat memberikan motivasi penuh dan utuh untuk memulai menulis, akupun masih dalam taraf memotivasi diri sendiri karena manfaat yang aku rasa bisa aku petik, meskipun baru sedikit. Dengan bertambahnya tulisan-tulisanku, aku yakin akan makin banyak manfaat itu mengalir.
Namun, satu hal yang aku ingat mengapa aku mengawalinya dengan menulis, adalah sebuah alasan sederhana untuk menghibur diri ketika sedang merasakan melankolik dari suatu kekecewaan. Kekecewaan yang sebenarnya aku menyadarinya sebagai bagian dari kehidupan, dan tentu saja masih banyak orang lain yang menghadapi kekecewaan jauh lebih besar daripada kekecewaanku ini.
Kekecewaan, apapun sebabnya membuat orang menjadi malas untuk tersenyum, namun itu patut untuk diusahakan. Rasa mendung di hati ini akhirnya akan menggerakkan jiwa ke arah potensialnya. Jika hati laksana cuaca, maka jiwa ini laksana iklim. Aku berharap sebagaimanapun cuacanya, iklim yang baik tetap saja tidak akan menjadikan penduduk bumi menderita. Jika iklimnya bersahabat, tidak da efek rumah kaca atau polusi permanen yang menyertainya, maka bumi insyaAllah akan sehat-sehat saja. Itulah yang aku inginkan dari sebentuk jiwa ini.
Jiwa ini harus tetaplah mengalir sebagai ombak yang bersemangat meraih tepian pantai. Dengan gemuruhnya yang menentramkan, ombak ini tetaplah harus mengantarkan botol berisi kertas harapan yang akan disampaikan kepada pemiliknya. Agar ombak ini senantiasa dinanti oleh pemilik kertas harapan itu.
Maka daripadanya, jiwa ini ingin kembali membangun jatidiri dengan lebih melapangkan jangkauannya agar sedikit penghambat lajunya terasa sangatlah kecil, dan makin kecil. Dan dengan ridlo Allah, ombak itu akan mendapatkan kemudahan yang jauh lebih besar dari rintangan yang dihadapinya. Semoga saja, harapan itu masih ada, dan menyerahkan sepenuh jiwa kepada pemilik jiwa adalah langkah terbaik untuk mendapatkan solusi terbaik. Bangkitlah wahai jiwa, ini hanyalah rintangan yang sangat kecil, jangan putus asa karena bisa jadi rintangan-rintangan lain yang akan membersamai langkahmu akan segera meyongsongmu.
DAN, PUKULAN YANG TIDAK EMMBUATMU MATI AKAN MAKIN MENGUATKANMU!!!!
Kamis, 31 Januari 2013
15 Tips Agar Muslimah Enjoy di Tempat Kerja
Kebutuhan kreativitas, sosialisasi dan pemenuhan materi menjadi
alasan kenapa perempuan memilih bekerja diluar rumah. Mungkin banyak
opsi lain agar muslimah tetap kreatif dan mampu bersosialisasi selain
bekerja diluar rumah. Tetapi jika mencukupi kebutuhan keluarga adalah
alasan utama seorang muslimah bekerja, maka hal yang patut disyukuri
ketika mereka masih diberi kesempatan untuk bekerja dan berprestasi.
Kini bukan hal yang langka muslimah bekerja di luar rumah. Baik berwirausaha atau menjadi karyawan. Namun sayangnya tidak semua muslimah menikmati perannya sebagai pekerja. Biasanya ketidaknyaman dalam bekerja dikarenakan beberapa hal, misalnya tekanan dari luar, gaji yang tidak sesuai dengan loyalitas, kejenuhan, atau pimpinan dan teman kerja yang kurang kooperatif.
Berikut beberapa tips yang dapat menambah wacana Anda, agar lebih enjoy di tempat kerja:
Kini bukan hal yang langka muslimah bekerja di luar rumah. Baik berwirausaha atau menjadi karyawan. Namun sayangnya tidak semua muslimah menikmati perannya sebagai pekerja. Biasanya ketidaknyaman dalam bekerja dikarenakan beberapa hal, misalnya tekanan dari luar, gaji yang tidak sesuai dengan loyalitas, kejenuhan, atau pimpinan dan teman kerja yang kurang kooperatif.
- Saatnya menetapkan visi, misi dan tujuan Anda dalam bekerja. Hal ini mendasari niat anda ketika memilih untuk memutuskan bekerja.
- Jangan merasa tidak puas dengan perusahaan, lalu dengan mudah mengumbar aib perusahaan ke orang lain atau membahasnya dengan rekan kerja. Percayalah ini tidak ada untungnya. Yang ada hanya akan menambah dosa. Segera carilah solusi. Komunikasikan masalah Anda dengan pihak yang mempunyai wewenang terhadap masalah Anda.
- Speak Up! Jika ada ide, sampaikan di forum yang tepat. Mungkin ide Anda bisa dipakai untuk memajukan perusahaan.
- Jika Anda seorang owner perusahaan, maka dengarkan keluhan karyawan. Karena mereka tonggak perusahaan anda. Jika tidak ada mereka, aktivitas perusahaan Anda tidak berjalan lancar.
- Buat target kebaikan yang akan menambah kreativitas Anda. Hal ini akan menjadi value added bagi diri Anda.
- Bersahabatlah dengan rekan kerja. Persahabatan akan menambah banyak manfaatnya. Coffee time after office hour, juga bisa dijadikan waktu untuk membuat pengajian kecil, sekalian me-refresh qolbu dan mempererat silaturrahim.
- Hindari ngerumpi, dan jangan bergosip. Jaga lisan.
- Jika ada masalah dengan rekan kerja, segera selesaikan. Membahas langsung dengan yang bersangkutan, akan memudahkan masalah terselesaikan. Atau jika membutuhkan pihak ketiga, carilah pihak yang bijak. Karena kita tetap butuh nasehat dari orang lain.
- Make over meja kerja. Rapikan file-file di meja kerja, serta bersihkan isi laci. Letakkan kalender lucu dan tempelkan potongan terjemahan ayat Al Quran jadikan sebagai quote penyemangat. Jangan lupa hiasi dengan warna-warna yang eye catching.
- Fashionable. Muslimah harus keren, namun tetap sesuai syariah. Memadupadankan busana, juga membuat nyaman dalam bekerja.
- Biasakan memberi hadiah kecil kepada teman kerja, misalnya sepotong coklat. Melihat orang lain tersenyum dapat menutrisi hati untuk lebih bahagia ditempat kerja.
- Memberi kado untuk diri sendiri setelah target kebaikan Anda di tempat kerja tercapai.
- Be Positive Thinker. Hindari berburuk sangka pada keadaan atau seseorang. Selain dilarang oleh Allah, berburuk sangka akan membuat hati terasa capek dan pikiran semakin sempit. Masalah yang kita hadapi juga semakin rumit. Maka sebaiknya tetap ber khusnudzan, bahwa selalu ada jalan keluar di kesulitan yang kita hadapi dan ada hikmah yang dapat kita ambil di setiap kejadian. So, stop buruk sangka ya.
- Pasang alarm waktu shalat. Shalat adalah rehat terbaik di sela-sela kesibukan. Terbasuh air wudhu, bertemu kembali dengan sajadah dan doa-doa kita, maka jiwa dan wajah akan kembali segar. Kebersihan mukena juga membuat kita bersemangat untuk beribadah. Pastikan Anda bekerja di tempat yang memberi waktu luang untuk shalat. Jika bos mulai menghitung waktu sholat anda, kompromikan atau pertimbangkan kembali keberadaan Anda disana.
- Hindari dan tinggalkan korupsi. Maka sebagai muslimah yang beriman dan warga negara yang baik, tanamkan pada diri untuk tidak menerima atau mengambil yang bukan hak kita. Mungkin bukan korupsi milyaran rupiah yang dilakukan anggota dewan kita, berbelanja alat kantor lalu terselip satu pinsil di tas kita saja itu sudah korupsi. Menjaga hal kecil namun berprinsip, itu akan menguatkan iman kita untuk tidak melakukan keburukan besar. Korupsi membuat hati tidak tenang. Jadi, yuk mulai budayakan bekerja jujur.
Langganan:
Postingan (Atom)